November 12, 2008, 10:44 pm
Ayub 42:1-6
INTRODUKSI
Menjalani hidup ini seperti sebuah pertandingan. Ada waktunya kita menang, ada waktunya kita kalah. Alkitab juga menceritakan kepada kita bahwa ada orang-orang yang mengasihi Allah menang dalam melawan kuat atau kejamnya tantangan dunia dan dosa, tapi ada juga yang akhirnya bias keluar sebagai juara atau pahlawan-pahlawan iman karena mereka menang dalam melawan kejamnya dunia dan kejamnya dosa, dalam melewati krisis demi krisis yang mereka hadapi.
Kata krisis tidak asing di telinga kita. Bahkan mungkin saat ini pun kita sedang berada di dalamnya. Krisis itu mungkin sedang melanda kita: Krisis rumah-tangga, krisis keuangan, krisis iman, krisis dalam pelayanan yang mungkin juga disebabkan karena adanya krisis di sekitar kita. Dan yang lebih kejamnya lagi adalah terkadang krisis demi krisis yang melanda hidup kita membuat kita tidak dapat bertahan lagi. Membuat hidup kita goyah dan goyang, bahkan mungkin sampai menggoncangkan dan merontokkan iman dan pengharapan kita kepada Tuhan. Iman dan pengharapan kita kepada Tuhan seolah-olah runtuh begitu saja karena kejamnya krisis dalam hidup ini. (Saya pernah mengalaminya – Ceritakan kisah keluarga !)
KALIMAT PERALIHAN
Hari ini saya ingin kita sama-sama belajar dari seorang tokoh Perjanjian Lama yang bernama Ayub. Mungkin kita sudah sering mendengar nama ini bahkan sudah pernah mendengarkan kisahnya. Marilah kita mengulanginya lagi dengan harapan menguatkan kita lagi hari ini, khususnya dalam menghadapa pelbagai krisis dalam hidup, dalam keluarga kita maupun dalam dunia ini. Kita tentunya sudah mengetahui apa yang dialami Ayub, krisis apa saja yang dialaminya. Dan, kita juga sudah tahu apa akhir dari kisah Ayub. Alkitab mencatat: Ayub berhasil melewatinya, Ayub menang dari semua krisis hidupnya. Iman Ayub sama-sekali tidak tergoncangkan! Ayub tetap eksis di tengah krisis! Apakah yang dapat membuat Ayub mampu bertahan, tetap eksis di tengah krisis hidupnya?
Yang perlu kita ingat dan menjadi perhatian kita dalam mempelajari tokoh ini adalah:
Cerita Ayub bukanlah sekedar suatu illustrasi, dongeng, atau perumpamaan, tetapi merupakan cerita sejarah, yang sungguh-sungguh terjadi.
Kalau nanti kita melihat bagaimana hebatnya Ayub maupun dosa-dosa Ayub, kita perlu mengingat bahwa Ayub bukanlah malaikat atau setengah allah. Ia adalah manusia biasa sama seperti kita.
Alkitab mencatat memang bahwa Ayub adalah seorang yang saleh, jujur, takut akan Allah dan menjauhi kejahatan. Tapi ini bukan menujukkan bahwa Ayub adalah seseorang yang sempurna dan tanpa dosa.
Ayub saleh tetapi toh menderita bahkan sangat menderita, untuk jangka waktu yang cukup lama. Dari sini banyak kita mungkin yang bertanya: Mengapa Ayub yang saleh dan jujur bias mendapatkan pengalaman pahit dalam hidupnya?
Paling tidak ada beberapa sebab manusia menderita atau menghadapi krisis dalam Alkitab:
· Karena dosa, tidak taat Firman Allah (Maz.52:3-5)
· Kuasa kegelapan (Kel.32:35 ; Yer.50:38)
· Pengalaman pahit dalam hidup / trauma masa lalu (Ul.28:58)
· Lingkungan yang tidak benar (Yes.13:1-8)
· Kejahatan orang berdosa di sekitar kita (Kel.21:18-19)
· Tidak hati-hati menjaga diri (II Raj.1:2)
· Kebodohan hamba Tuhan (Yeh.34:1-10)
· Pengalaman biasa dalam hidup (I Kor. 10:13)
· Diijinkan Tuhan secara khusus (Lazarus & Ayub)
KALIMAT PERALIHAN
Paling tidak ada tiga jenis manusia dalam menghadapi pergumulan / krisis kehidupan: Menuduh Tuhan dan menyalahkan Tuhan (Cara Yeremia), Meninggalkan Tuhan (Cara Isteri Ayub) & mengandalkan idiri sendiri dan mencari jalan keluar sendiri (Cara Sarah). Mari kita lihat cara Ayub menghadapi dan melewati krisis demi krisis dalam kehidupannya :
ISI KHOTBAH
AYUB MENJADIKAN TUHAN SEBAGAI TEMAN BICARA. (Ayub 42:1). Kedekatan Ayub dengan Tuhan sangat mempengaruhi hidupnya ketika dilanda berbagai krisis. Hubungan kita dengan Tuhan sangat berperan penting dalam kita menghadapi berbagai kemelut dalam hidup ini. Kedekatan kita denganNya lah yang membuat kita tahu bahwa sebenarnya Dia selalu memegang tangan kita di tengah krisis yang sedang melanda hidup kita.
AYUB MEMILIKI IMAN YANG LUAR BIASA (Ayub 42:2). Karena imannya yang luar-biasa itulah yang membuat Ayub tahu bahwa walaupun krisis melanda tapi Allah senantiasa menyertainya. Ayub tahu bahwa Tuhan itu adil dalam segala tindakannya dan rencananya tidak pernah gagal. Ayub yakin bahwa hanya Tuhanlah yang menjadi batu karang dan kekuatan-Nya. Tuhanlah yang akan menguatkan dan menyelesaikan krisis ini dalam hidupnya. Ayub hanya bergantung total kepada Tuhan dengan keyakinan yang kuat allah sanggup menyelesaikan baginya.
Kisah tentang terbakarnya rumah dua lantai di sebuah komunitas pertanian kecil di daerah Midwest. Semua orang dalam rumah sudah lari keluar kecuali seorang anak laki-laki berumur 5 tahun. Sang ayah melihat kea rah kamar anak laki-lakinya itu dan meilhat anak itu sedang menangis dan menggosok-gosok matanya. Sang ayah tahu bahwa jalan terbaik adalah tidak kembali masuk ke dalam rumah untuk menyelamatkan putranya. Ia hanya berteriak, “Nak, lompatlah, Ayah akan menangkapmu!” Sambil menangis anak itu menjawab, “Tetapi aku tidak bias melihat ayah.” Si Ayah menjawab dengan penuh keyakinan, “Nak, kamu tidak melihat ayah, tetapi ayah bias melihatmu!” Si anak melompat dan selamat karena jatuh tepat di pelukan ayahnya. Inilah iman !
AYUB TETAP EKSIS KARENA TETAP MENGINGAT JANJI TUHAN MELALUI FIRMANNYA (Ayub 42:3-4). Janji-janji itulah yang membuat Ayub bangkit kembali dan dapat tetap berdiri. Tuhan tidak pernah mengingkari janji-Nya. Kitalah yang seringkali melupakannya dan tidak sabar dalam menanti janji Tuhan.
Seorang ibu mengisahkan tentang anak yang berumur kurang lebih 10 tahun, neneknya menjanjikannya sebuah album perangko untuk natal. Natal tiba tapi tidak ada album perangko dan tidak ada kabar dari nenek. Yang membuat ibu ini terkejut adalah, ketika teman-teman anaknya dating untuk melihat semua hadiah natalnya, anaknya menyebutkan semua hadiah yangdia dapatkan…..ia juga menambahkan, “Dan sebuah album perangko dari nenek.” Ibunya berulangkali mengatakan, “George kamu kan tidak mendapatkan album perangko dari nenek, mengapa kamu mengatakan begitu?” Anak itu heran melihat mamanya dan berkata, “Iya mama, nenek mengatakannya, jadi ya begitulah adanya.” Satu bulan berlalu. Ibu mengatakan kepada anaknya: Nak, mungkin nenek lupa akan janjinya!
George menjawab, “Tidak mama, nenek tidak akan lupa!” Mama, apakah menurutmu ada baiknya kalau aku mengirim surat mengucapkan terima kasih kepada nenek untuk album perangkonya? Mama tidak tahu nak, tapi kamu boleh mencobanya. Sambil bersiul mengirimkan suratnya. Dalam waktu singkat datanglah sepucuk surat yang berbunyi, “Sayangku George, nenek belum lupa akan janji nenek kepadamu. Nenek berusaha mendapatkan buku seperti itu, tapi tidak memperolehnya jenis yang sesuai dengan keinginanmu, jadi nenek memesannya di New York. Pesanan itu sampai sesudah natal, tapi belum sesuai juga sehingga nenek memesan yang lain. Oleh karena itu belum sampai juga, nenek mengirimmu $ 3 untuk membelinya di Chicago. Nenekmu yang menyayangimu. Nah, mama sudah kubilang kan?”
MAKSUD TUHAN DALAM SETIAP KRISIS (Ayub 42:5-6) Krisis yang dialami Ayub justru memperdalam pengenalannya terhadap Tuhan. Saya terkejut juga waktu mempelajari kisah hidup Ayub. Aybu bukan sekedar manusia biasa, tapi rupanya iman dan pengenalan dia sebelum krisis ini dating sangatlah sederhana dan dangkal. Ia mengenal Tuhan hanya dari kata orang saja.
Inilah sebenarnya tujuan Tuhan terkadang mengijinkan krisis terjadi dalam hidup kitasebagai orang percaya. Untuk membentuk karakter rohani kita. Untuk mengasah iman kita menjadi iman yangsemakin murni dan berkualitas. Situasi dunia sekarang ini membutuhkan orang Kristen yangmemiliki pengenalan terhadap Tuhan yang dalam bukan secara gampangan saja. (Duet Ibu Sarah & Dephia – Kami diberkati dengan lagu ini !)
Maksud Tuhan yang berikut menjinkan krisis dalam hidup kita adalah agar kita sadar siapa kita sebenarnya di hadapan Tuhan. Kita adalah manusia berdosa, tanpa daya yang begitu membutuhkan anugerah dan pertolongan Tuhan tiap-tiap saat. Mari kita berdoa agar tiap-tiap saat Tuhan membentuk kita, Tuhan menenun hidup kita semakin indah, seperti bejana di tangan seorang penjunan. Perhatikan kalimat agung ini, yang pernah diucapkan Ayub : “Karena Ia tahu jalan hidupku, seandainya ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas.” (Ayub 23:10).
PENUTUP
Saya teringat kisah yang pernah dicaritakan oleh DR. James Dobson dalam bukunya “Di Saat Kehidupan Menjadi Sulit” : Suatu kali anak laki-lakinya Ryan mengalami infeksi telinga pada usia 3 tahun dan harus dioperasi. Dokternya adalah dokter tua yang tidak sabaran melihat anak kecil yang suka meronta. Waktu Rya tidur di atas meja operasi, dokternya mengatakan bahwa ini akanm sakit dan minta Shirley (mamanya) untuk memegang anaknya dengan kuat. Ryan mengamuk dan akhirnya terlepas. Dokter marah dan memanggil James Dobson dan memintannya untuk memegang Ryan dengan kuat.
Disini DR. James Dobson belajar sesuatu tentang Bapa di Sorga, khususnya ketika dia harus menindihkan badannya yang seberat 200 pounds 6 kaki 2 inci ke atas tubuh Ryan. Ini merupakan saat yang paling sulit selama karier saya. Saya melihat Ryan menjerit dan minta dikasihani. Saya melonggarkan, hamper terlepas, dokter ngomel. Saya kencangkan lagi. Saya tidak bias membayangkan apa yang ada dalam benak Ryan pada waktu itu, mungkin ia marah dan berteriak, Ayah, apa yang engkau lakukan, saya piker engkau mencintai aku. Betapa teganya engkau melakukan, tolong lepaskan aku, aku sangat kesakitan!
Tidak mungkin menceritakan kepada Ryan bahwa penderitaanya perlu demi kebaikkannya sendiri, bahwa saya sebenanrya mencoba membantunya. Dan, adalah cinta yang membuat saya memegangi dia di atas meja operasi ! Seperti itulah Bapa kita yang penuh kasih yang terkadang sepertinya menyakiti kita tetapi semuanya itu dilakukan karena justru kasihNya kepada kita. Ia sedang membentuk kita dan menolong kita untuk menjadi semakin indah! Amin!