INTRODUKSI
Siapa yang tidak kenal dengan Mark Zuckerberg. Pemuda yang sempat kuliah di Harvard University ini memilih drop out, karena ingin lebih focus untuk mengembangkan situs jaringan facebook.com buatannya. Baru-baru ini dinobatkan sebagai ‘Orang Muda Terkaya’ di dunia, versi majalah Forbes di usia 24 tahun. Hebatnya lagi Mark masuk daftar orang muda terkaya di dunia, murni karena hasil kerja kerasnya sendiri, bukan karena dapat warisan dari orang tua, seperti daftar orang muda terkaya lainnya yang kayak arena warisan orang tuanya. Tercatat sebagai miliuner termuda dalam sejarah yang memperoleh sendiri harta kekayaannya. Dengan kekayaan senilai 1,5 Miliar dollar (13,5 triliun rupiah), Mark menjadi miliuner setelah menjual Facebook kepada Microsoft. Pada bulan Oktober 2007 yang lalu Microsoft membeli 1,6% saham Facebook senilai 240 juta dollar (2,1 Triliun rupiah). Sekarang Facebook telah menjadi anak perusahaan dari Microsoft milik Bill Gates dengan pengunjung situs diperkirakan sejumlah 100 juta pengguna aktif.
KALIMAT PERALIHAN
Hari ini kita juga akan melihat dan belajar dari ‘Seorang Muda Yang Kaya’ yang diceritakan dan dicatat dalam Alkitab dalam Matius 19:16-26. Alkitab mencatat bahwa orang ini masih muda. Dalam bagian yang lain dia disebut juga sebagai pemimpin bahkan kemungkinan pemimpin sinagoge local di tempat itu. Orang ini masih muda, kaya bahkan dipastikan sangat kaya (dalam terjemahan lain disebut sangat kaya, karena memiliki sejumlah property, tanah dan kekayaan-kekayaan lain) tapi juga sekaligus dikenal sebagai orang yang sangat terhormat dan terpandang karena punya kedudukkan tinggi sebagai Pemimpin Sinagoge pada waktu itu. Sebelum lebih lanjut mempelajari kisah ini, ada sesuatu yang menarik bagi saya:
- Orang ini tergolong orang sukses pada jamannya, karena dia kaya, juga sekaligus orang yang punya kedudukkan yang terhormatdi mata masyarakat tapi masih punya kerinduan untuk mencari Yesus dan juga masih punya waktu memikirkan hal-hal rohani. Masih memikirkan tentang hidup kekal. Biasanya pada jaman sekarang ,kalau kita menemukan orang yang kaya, punya banyak harta dan juga punya kedudukkan tinggi biasanya identik dengan kesombongan. Menganggap rendah orang lain dan biasanya karena punya segala-galanya, merasa tidak perlu Tuhan dan tidak punya waktu memikirkan hal-hal rohani!
- Apa yang ada dalam pikiran kita kalau kita bertemu dengan seseorang yang sangat kaya dan sukses? Atau, apa yang selalu ada dalam pikiran kita jika kita melihat orang yang kaya, sukses, terkenal dan terhormat mati? Apa yang ada dalam pikiran kita ketika mendengar orang sekaliber ‘Michael Jackson’ mati? Apa yang ada dalam pikiran kita selama menonton acara memorial service Michael Jackson? Apa dia sudah terima Tuhan Yesus ya? Jika dia mati tanpa Kristus, kemanakah dia nanti? Apalah arti kekayaan yang melimpah, dihormati dan disanjung orang selama masih hidup tapi nantinya mati dalam kesia-siaan, mati tanpa Kristus dan masuk neraka?
KALIMAT KUNCI
Dalam kisah ini terlihat bahwa Orang Muda Yang Kaya tadi tahu bahwa masih ada satu yang kurang dalam hidupnya. Ia punya segala sesuatu, ia punya harta yang banyak, ia dihormati dan disanjung orang banyak, tapi Ia belum punya hidup kekal. Oleh karena itu Ia datang kepada Yesus dan bertanya: “Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup kekal?”
Melalui pertanyaan Orang Muda Kaya dan jawaban-jawaban yang diberikan Tuhan Yesus dalam kisah ini, saya menemukan ada “3 Kualifikasi / 3 Syarat utama yang diberikan oleh Tuhan Yesus, jika seseorang ingin mendapatkan hidup kekal atau ingin namanya terdaftar di sorga :
ISI KHOTBAH
- HIDUP KEKAL TIDAK BISA DIDAPATKAN DENGAN PERBUATAN BAIK.
- Dalam jawaban Tuhan Yesus terhadap pertanyaan orang muda kaya ini secara jelas mematahkan konsep atau pemahaman orang yang salah mengenai keselamatan, yaitu dengan berbuat baik kita bisa mendapatkan keselamatan atau hidup kekal. Pandangan banyak orang adalah dengan banyak-banyak berbuat baik kita dapat masuk surga. Tuhan Yesus mengatakan kepada orang muda itu bahwa tidak ada perbuatan baik, yang baik itu hanya satu yakni Allah sendiri. Perbuatan baik kita tidak dapat menyelesaikan dosa sama sekali, karena beberapa alasan mendasar :
- Seberapa baikkah yang bisa kita buat? Ada peribahasa dalam bahasa Indonesia, ‘Rusak susu sebelanga karena nila setitik.’ Satu perbuatan dosa saja sudah sangat cukup membuat semua perbuatan baik yang jutaan jumlahnya pun menjadi tidak berarti dan setelah itu perbuatan baik yang dilakukan tidak pernah lagi dipandang baik. Dalam aspek hukum dan keadilan juga demikian, orang akan tetap dihukum setelah melakukan pembunuhan walaupun dia sebelumnya sudah berbuat baik begitu banyak, perbuatan baik itu hanya dapat sedikit meringankan hukuman, tetap itidak dapatmenghapus hukuman (Ingat kisah Kejatuhan Daud). Prinsip keadilan ini tidak bisa dibuang, ini adalah prinsip umum. Dari aspek hukum dan keadilan ini saja kita lihat bahwa cara mengatasi dosa tidak bisa dengan perbuatan baik.
- Perbuatan baik yang dilakukan dengan motivasi supaya dapat masuk surge adalah perbuatan yang tidak baik. Makin berbuat baik akan makin berdosa dan masuk neraka, Konsep ini sudah diungkapkan sekitar 2350 tahun yang lalu dengan teori ‘Sommum Bonum’ dari Aristoteles & Plato yang menyatakan bahwa perbuatan baik supaya masuk surge adalah tidak sah dan tidak logis untuk masuk surge. Oleh karena itu Tuhan Yesus mengatakan kepadao rangm uda itu tidak ada perbuatan yang baik, yang baik hanya satu. Paulus dalam kitab Roma juga mengatakan bahwa tidak ada manusia yang baik, semua berdosa. Bayangkan, teori seperti ini dari level dunia saja tidak sah, apalagi dari level kekristenan yang sangat agung dan lebih mulia.
- Belum lagi dilihat dari ‘Tuntutan Allah’ adalah sempurna. Satu dosa saja membuat Allah jijik kepada kita. Oleh karena itu mustahil manusia bisa mendapatkan hidup kekal dengan usahanya sendiri, denga ncara apapun. Tidak ada jalan lain, kecuali kita menerima jalan keluar yang diberikan Allah kepada kita : Beriman dan percaya saja kepada Tuhan Yesus yang sudah datang dan mati untuk menebus dosa kita. Hidup kekal itu Anugerah, tidak bisa diperoleh dengan usaha kita. Beriman yang benar adalah: Mengenal dan mengandalkan Yesus saja sebagai Tuhan dan Juruselamat untuk memperoleh hidup kekal. Inilah iman yang menyelamatkan, bukan iman melompat dalam gelap dan iman karena akal / pengetahuan saja (Illustrasi Blondin, Kapal dan Tali-Benang).
- HIDUP KEKAL TIDAK BISA DIDAPATKAN DENGAN MENTAATI HUKUM SAJA – MENJADI ORANG TERHORMAT & DIANGGAP BAIK OLEH ORANG.
- Dari jawaban Tuhan Yesus kepada orang muda ini juga sangat terlihat bahwa Tuhan Yesus dengan tegas menyatakan kebenaran kristiani yang paling hakiki bahwa menjadi orang terhormat, menjadi orang yang mentaati hukum-hukum religious saja sehingga ‘dipandang / dilihat orang sebagai orang baik’ tidaklah cukup. Ketika Tuhan Yesus katakan kepada orang muda ini, apakah engkau sudah melakukan semua yang tertulis dalam hukum Taurat (10 hukum), orang muda ini secara cepat dan penuh keyakinan menjawab ‘ya’ saya sudah melakukannya dengan sempurna, dengan kata lain, ya saya tidak pernah menyakiti orang lain, saya juga tidak pernah merugikan orang lain. Saya sudah mentaati semua hukum-hukum tersebut!
- Tetapi yang ingin Yesus katakan sebenarnya adalah: Perbuatan baik apakah yang sudah engkau lakukan dengan semua harta yang engkau miliki? Kebaikkan positif apa saja yang sudah engkau lalukan bagi orang lain? Berapa banyak yang sudah engkau sisihkan untuk menolong, menghibur, dan menguatkan orang lain yang semestinya engkau lakukan dengan harta yang engkau punya?
- Perbedaan orang terhormat dengan orang Kristen adalah: Sebuah kehormatan diri memang bisa diperoleh dengan tidak melakukan apa-apa, sedangkan kekristenan sejati diperoleh dengan melakukan sesuatu! Disinilah kelemahan dan akhirnya menjadi kegagalan orang muda ini (bahkan kita semua juga) untuk mendapatkan hidup kekal yang dicarinya!
- Dalam bagian ini, kita belajar satu hal. Kita harus keluar dari kehormatan moral seperti orang muda tersebut. Tuhan Yesus mau kita berhenti berpikir bahwa kebaikkan itu diperoleh dari tidak melakukan apa-apa. Bisa jadi kita tidak pernah mengambil sesuatu dari orang lain dan kita mendapatkan kehormatan, tapi kita akan menjadi bagian dalam kekristenan sejati jika kita sampai kepada level memberi sesuatu kepada orang lain yang membutuhkan. Oleh karena itu Tuhan Yesus memberikan jawaban : Juallah semua hartamu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan mendapatkan harta di sorga! Kekristenan sejati adalah memberi bukan hanya mentaati hukum.
- Mana lebih mudah: Mentaati lampu merah dijalan atau memberhentikan mobil kita dan menolong seorang cacat yang ingin menyeberang di lampu merah? Inilah level kekristenan sejati yang Tuhan Yesus inginkan dari kita. Mentaati hukum banyak orang bisa melakukannya, tetapi menolong dan memberi kasih kepada orang yang membutuhkan bicara soal lain. Tuhan Yesu hanya ingin menegaskan kepada orangm uda tersebut bahwa jangan mengira dengan engkau melakukan dengan sempurna, mentaati semua hukum taurat , melakukan semua aturan2 religius sehingga engkau dihormati orang lain, engkau akan selamat / mendapatkan hidup kekal. Karena hidup kekal atau kekristenan sejati bukan terlihat ketika kita bisa mentaati aturan2 tersebut atau tidak melakukan apa2, hidup kekal itu hanya bisa diperoleh karena anugerah. Dan, jika kita telah hidup dalam anugerah tersebut, kita pasti akan selalu mengingat kepentingan orang lain!
- HIDUP KEKAL TIDAK BISA DIDAPATKAN DENGAN MASIH MENJADI ORANG KAYA.
- Yang menjadi pertanyaan kita ketika membaca kisah ini adalah: Apa arti Tuhan Yesus katakan orang kaya sukar masuk surge? Mengapa Tuhan Yesus meminta orang muda itu menjual semua hartanya? Apakah itu berarti kita harus menjual semua harta kita dan tidak nenjadi orang kaya lagi baru kita bisa masuk surge dan mendapatkan hidup kekal?
- Apakah salah menjadi orang kaya? Apakah salah jika kita memiliki kekayaan yang banyak? Mengapa orang muda itu juga menjadisedih ketika mendengar jawaban Tuhan Yesus soal mennjual semua hartanya?
- Penekanan dari jawaban Tuhan Yesus ini sebenarnya adalah: Tuhan itu tidak pernah mau ditempatkan dalam urutan kedua dalam kehidupan kita. Kenapa dalam Perjanjian Baru Tuhan Yesus paling banyak bicara soal uang dan kekayaan setelah keselamatan kekal? Karena ancaman terbesar dalam hidup manusia yang dapat membuat Tuhan itu kita tempatkan dalam urutan kedua adalah : uang dan pengejaran akan kekayaan!!
- Mengapa Tuhan Yesus meminta orang muda ini menjual semua hartanya? Karena Tuhan Yesu tahu dengan persis bahwa bagi orang muda ini hartanya adalah allah lain dalam hidupnya. Uang dan kekayaannya telah menjadi illah lain dalam hidupnya sehingga Tuhan telah ditempatkan dalam urutan kedua. Hidup kekal tidak akan kita dapatkan jika masih ada illah lain dalam hidup kita, apapun itu : uang, kekayaan, nafsu kita, hobby kita, teknologi, dan lain sebagainya (Baca I Timotius 6:9)
- Ketika Tuhan Yesus menyuruh orang muda ini menjual semua hartanya, Tuhan Yesus ingin mencari tahu apakah dia benar-benar mencari Tuhan, mencari hidup kekal ataukah tuhannya sebenarnya adalah uangnya atau hartanya? Ternyata……….
- Kekayaan bisa menjadi tanda dari berkat Tuhan tetapi juga bisa menjadi penghalang bagi manusia untuk lebih beribadah kepada Tuhan.
TAMBAHAN
Cerita tentang manusia yang menjual jiwanya untuk mendapatkan harta terjadi terus sepanjang masa karena manusia merasa bahwa hidup kekal itu tidak bisa ditentukan oleh makna di luar diri manusia, karena merupakan sesuatu yang abstrak, padahal zaman modern ini menekankan hal yang konkrit. Hidup manusia harus bermakna, kalau tidak, akan menjadi kosong. Muncullah filsafat materialisme, logical positivisme, dan sebagainya, yang mengatakan bahwa makna hidup itu tidaklah ada karena tidak bisa dibuktikan, tidak bisa dilihat, tidak bisa diraba, dan tidak bisa diuji keberadaannya; materi lebih penting karena bisa dilihat. Itu adalah versi Barat.
Versi Timur mengatakan hal yang tidak jauh berbeda. Muncullah allah-allah yang merupakan gambaran dari manusia, misalnya dewa yang memegang uang, ada dewa hujan, dewi kesuburan, dewa kekuatan. Ini semua hanyalah proyeksi dari keinginan manusia.
Akibat dari materialisme adalah: walaupun punya kekayaan, jiwa tetap kosong, sehingga perlu diisi dengan hiburan. Banyak hiburan yang ditawarkan, seperti televisi, komik, dimana gambar lebih menonjol daripada perkataan. Hiburan yang paling utama dalam zaman ini adalah kekerasan, humor, seksualitas, dan komedi. Ironisnya, justru di zaman yang penuh dengan hiburan ini, manusia merasa lebih kosong dan lebih kosong lagi. Kita mengalami tekanan mungkin 20 kali lebih besar dari zaman sebelum ini, sehingga mempercepat kita menghadap Tuhan.
Ketika muda, kita pakai tenaga kita untuk kerja berat untuk mengumpulkan uang. Ketika tua, kita kehilangan kesehatan, lalu kita memakai uang yang kita peroleh waktu muda untuk mengganti kesehatan yang telah hilang tersebut. Bukankah hidup manusia itu seperti roda yang terus berputar seperti itu? Orang yang kaya, hartanya dihabiskan oleh cucunya, kemudian cucunya mencari harta lagi tetapi dihabiskan oleh cucunya. Hal ini terus berputar. Cerita ironis seperti yang dialami orang muda itu terus terjadi di sepanjang sejarah manusia.
Markus mengkontraskan cerita orang muda ini dengan Bartimeus, orang yang buta, yang setelah disembuhkan oleh Tuhan Yesus rela menanggalkan jubahnya (harta satu-satunya miliknya) lalu mengikut Yesus ke Yerusalem. Kontras dengan orang muda itu yang tidak bisa meninggalkan hartanya untuk mengikut Yesus.
Cerita orang muda ini juga memiliki banyak kesamaan dengan cerita tentang anak yang kerasukan (Markus 9:14-29) yaitu sama-sama memiliki sesuatu sejak masa kecil mereka, anak itu sudah dirasuki setan sampai umur 12 tahun, sedangkan orang muda itu sudah melakukan Taurat sejak umur 12 tahun ketika dia ditahbiskan menjadi anak Taurat; keduanya sama-sama dirasuki, anak itu dirasuki roh jahat, sedangkan orang muda itu dirasuki materialisme. Ironisnya adalah anak itu dilepaskan sedangkan orang muda itu tidak pernah dilepaskan karena dia sendiri tidak mau dilepaskan dari kerasukan materialisme itu.
Tuhan Yesus menawarkan hal yang lebih baik yaitu : Ikutlah Aku. Apakah ada yang lebih baik daripada mengikut Tuhan? Dalam kitab Kejadian diceritakan bahwa Yusuf dapat berhasil karena Tuhan menyertai dia. Kalau kita mengikut Tuhan, Tuhan akan menyertai kita, bukankah ini adalah hal yang besar? Ketika kita menjadikan materialisme sebagai andalan kita, itu hanya akan menjadi fatamorgana bagi kita, karena sepanjang sejarah terbukti bahwa materialisme tidak pernah bisa memuaskan manusia. Kesenangan yang kita lakukan terus menerus akan menimbulkan kebosanan, itulah fatamorgana.
Yang bisa memuaskan kita adalah ketika Tuhan beserta kita dan kita beserta Dia. Itulah yang menjadi permasalahan manusia sejak awalnya. Ketika dosa terjadi, manusia terpisah dari Tuhan, dosa memisahkan manusia dengan Sang Sumber Kebahagiaan, Sang Sumber Hidup, maka terjadilah kesengsaraan yang terbesar.
Kejadian 3:22 sepertinya menunjukkan bahwa perkataan iblis kepada Hawa adalah benar yaitu manusia tidak akan mati ketika makan buah yang dilarang oleh Tuhan melainkan akan menjadi seperti Allah. Kita melihat sepertinya iblis yang benar, Allah yang salah, karena definisi “mati” kita mengikuti dunia. Mati menurut dunia adalah terpisahnya tubuh dengan jiwa. Arti “mati” yang sesungguhnya adalah ketika dosa memisahkan kita dengan Sang Sumber Hidup. Tumbuhan yang tercabut dari tanah sebagai sumber haranya, maka dia sudah mati walaupun dia masih kelihatan segar.
Ketika manusia kembali kepada Allah, dia mengalami hidup yang sejati, hidup yang kekal, hidup yang dicari oleh orang muda ini. Orang muda itu sudah menjalankan sikap yang benar, mengajukan pertanyaan yang benar, tetapi ketika jawaban sudah diberikan, dia tidak bisa mengambil keputusan yang benar. Ironis sekali!
Tuhan Yesus menaruh belas kasihan kepada orang muda ini. Tuhan bukan ingin menyusahkan orang muda ini, Dia mengasihi orang muda ini. Tuhan hanya ingin mengatakan bahwa usahamu, dirimu, pencapaianmu, kerohanianmu, dsb tidaklah bisa diandalkan untuk dapat memperoleh hidup kekal.
Cerita ini juga kontras dengan kisah hidup Tuhan Yesus sendiri. Tuhan Yesus tidaklah sukses kalau dilihat dari sisi materialisme. Menurut filsuf zaman dulu, sukses adalah ketika seseorang menjadi bijaksana, dapat mengatur hidup dengan baik. Zaman ini mengatakan bahwa sukses adalah ketika kita menjadi kaya; kita kuliah bukan untuk menjadi orang yang lebih baik melainkan untuk mendapat pekerjaan yang lebih baik, penghasilan yang lebih baik. Ironisnya, Tuhan Yesus ketika akan mati di atas kayu salib mengatakan bahwa Dia sudah selesai, Dia sudah sukses; padahal Dia dikhianati oleh muridNya, ditinggalkan oleh murid-muridNya, Dia mati di usia yang begitu muda sebagai seorang penjahat.
Ketika kita mengejar kepuasan di luar Tuhan, itu semua hanya fatamorgana, maka Tuhan Yesus mengajar kita untuk menyangkal diri. Sangkal diri, ikuti jalan Tuhan, maka kita akan bisa kembali kepada hidup yang sejati. Hidup yang kekal adalah mengenal Allah dan mengenal Yesus sebagai satu-satunya juru selamat. Hidup yang kekal adalah sebuah relasi, sebuah pengenalan (=relasi yang intim). Dosa memisahkan manusia dengan Allah, Kristus datang ke tengah dunia untuk mencari manusia berdosa, untuk memulihkan relasi manusia dengan Tuhan. Dengan pulihnya relasi tersebut, manusia akan memperoleh hiburan yang sejati, bahagia yang sejati.
Prinsip yang indah yang ditawarkan oleh Alkitab adalah benda yang sejati adalah bukan berupa benda melainkan berupa hidup yang sejati yaitu hidup yang kembali kepada Allah, hidup yang didefinisikan oleh Sang Pemberi Hidup. Kalau manusia menyimpang dari tujuan semula ketika diciptakan oleh Tuhan, manusia menjadi rusak sehingga kehilangan maknanya/ nilainya, kehilangan arti dan tujuannya. Mari kita kembali kepada tujuan hidup yang Tuhan tetapkan bagi kita.
Ketika teknologi menawarkan kepada manusia segala sarana untuk dapat hemat waktu, hemat tenaga, pertanyaannya adalah dikemanakankah waktu yang dihemat tersebut?
Bukankah orang modern/ post-modern sekarang ini waktu luangnya makin sedikit, makin dihibur makin stress. Ketika teknologi menawarkan kemudahan hidup, manusia kehilangan makna hidup. Di dunia dengan kecanggihan alat komunikasi yang ada, manusia merasa kesepian. Dengan informasi yang banyak, manusia menjadi semakin tidak bijaksana. Dengan bijaksana manusia sendiri, manusia ingin hidup yang lebih baik. Dengan makan buah pengetahuan yang baik dan yang jahat, manusia ingin menjadi seperti Tuhan, bukan kehendak Tuhan yang jadi melainkan kehendakku yang jadi. Semuanya ironis!
KESIMPULAN / TANTANGAN
- Cerita orang muda ini dapat terjadi dalam kehidupan kita, dan hal-hal yang ironis juga dapat kita alami. Akankah kita seperti orang muda ini yang datang dengan sikap yang benar, kepada guru yang benar dengan pertanyaan yang benar, tetapi kita gagal mengambil keputusan yang benar?
- Apakah ada diantara kita yang belum yakin akan hidup kekal? Belum punya keyakinan masuk surge atau tidak?
- Apakah masih ada diantara kita yang masih punya konsep yang salah tentang keselamatan? Masih berpikir bahwa dengan berbuat baik, dengan dianggap baik oleh orang lain karena sepertinya taat beragama bisa selamat? Hari ini datang kepada Tuhan dan bertobat. Keselamatan / hidup kekal hanya dapat diperoleh dengan iman yang benar kepada Tuhan Yesus. Hanya dengan penyerahan dan pengandalan kepada Tuhan Yesus saja.
- Apakah masih ada dalam hidup kita yang tanpa sadar telah menjadi illah lain sehingga Tuhan kita tempatkan di posisi kedua dalam hidup kita. Tuhan akan jijik kepada kita dan kita pun tidak akan mendapatkan hidup kekal. Kekayaan, hobby, keluarga kita, waktu kita?
- Hidup kekal hanya bisa diperoleh dengan beriman dan mengandalkan Yesus saja. Tidak mengandalkan yang lain : Perbuatan baik kita, ketaatan kita kepada peraturan-peraturan religious, ketaatan beragama kita, posisi sebagai pemimpin dalam gereja dan lain sebagainya!
- Ingin menerima hidup kekal? Ikutlah Yesus, itu berarti harus ada penyangkalan diri !