March 16, 2009, 12:00 pm
MULANYA BIASA SAJA, AKHIRNYA LUAR-BIASA. Matius 4:18-22 ; Wahyu 1:1-3.
INTRODUKSI
Perbedaan pernikahan ala Timur dan ala Barat terletak pada bagaimana mereka memulainya, bagaimana mereka menjalaninya dan bagaimana mereka mengakhirinya. Pernikahan ala Barat : Mulanya luar-biasa dan penuh nuansa romantisme, makin lama makin dingin dan biasanya akhirnya mati, diakhiri dengan perpisahan. Sedangkan pernikahan ala Timur sebaliknya : Mulanya biasa saja, tapi makin lama makin membara, akhirnya luar-biasa.
Dalam dunia olah-raga kita mengenal tiga tipe atau tiga kelompok orang dalam mengikuti suatu seri pertandingan, seperti Super Bowl atau Seri NBA :
* Kelompok pertama yang kita sebut sebagai ‘penonton’ : Kelompok ini adalah mungkin seperti saya, yang menyaksikan seri NBA bulan-bulan ini tanpa ada kaitan apapun dengan salah satu tim dan tidak peduli apapun mengenai hasilnya.
* Kelompok kedua yang kita kenal dengan sebutan ‘penggemar’ : Kelompok kedua ini adalah penggemar-penggemar dari tim tertentu. Mereka mengikuti hasil dari tim mereka melalui surat kabar, menyaksikan permainan tim tersebut di TV dan bahkan menghadiri pertandingan tim mereka jika cuaca bagus dan tiket tidak terlalu mahal. Jika tim mereka kalah, mereka merasa kecewa, namun hidup mereka terus berlanjut sebagaimana biasanya.
* Sedangkan kelompok ketiga adalah : Kelompok orang-orang yang akan mengikuti tim mereka kemanapun tim itu pergi dan berapapun mahalnya. Cuaca buruk hanya menambah semangat mereka karena motto mereka adalah ‘kami akan bersama-sama dengan tim kami dalam segala hal’. Ini adalah kelompok orang-orang yang tahu kapan semangat tambahan dapat member hasil yang berbeda. Orang-orang ini akan melakukan segala sesuatu untuk mengenal parap emain dalam tim itu dan mereka memiliki banyak informasi tentang tim tersebut. Orang-orang dalam kelompok ini sudah hamper dipastikan dapat menjawab hamper semua pertanyaan tentangtim mereka, hal-hal yang dahulu, sekarang dan akan dating. Antusiasme mereka mempengaruhi orang lain dan mereka gembira jikalau merekadapatmempengaruhi orang lain melalui pengalaman.
KALIMAT PERALIHAN
Menurut saya ada tiga kelompok orang juga dalam mengikut Yesus : Penonton, Orang Percaya & Murid-murid Yesus. Penonton adalah orang-orang yang hanya mengenal Yesus dan berhenti sampai di situ. Sedangkan kelompok kedua adalah orang-orang yangpercaya kepada Tuhan Yesus. Kelompok ini tiba pada satu kesimpulan bahwa Yesus orang Nasareth itu adalah benar Anak Allah yang dating ke dalam dunia untuk menyelamatkan manusia dari dosa, mati di kayu salib dan bangkit dari antaraorang mati. Sedangkan kelompok ketiga adalah seorang murid Tuhan Yesus. Murid adalah orang percaya dan juga adalah seorang yang memberikan jawaban positif terhadap panggilan Kristus untuk menjadi pengikut-Nya.
Perhatikan Matius 4:19 : Ketika Tuhan Yesus katakana “Mari, ikutlah aku….” Murid-murid pada waktu itu meresponi dengan mengatakan, Saya akan mengikut Engkau kemanapun Engkau memimpin dan berapapun harga yang harus kubayar. Dengan kata lain :
* Penonton adalah orang-orang yang hanya sekedar tahu tentang Yesus.
* Orang percaya adalah orang-orang yang menerima fakta bahwa Yesus adalah Anak Allah.
* Sedangkan seorang murid adalah orang-orang yang mengikuti Tuhan Yesus apapun dan berapapun harga yang harus dibayar.
ISI KHOTBAH
Karakter ini jugalah yang dapat kita pelajari dari seorang murid Tuhan yang bernama Yohanes. Yohanes bukan hanya sekedar nama saja sebagai ‘Murid Tuhan Yesus’, tapi dia sungguh-sungguh menjalankan panggilan pelayanannya dan seluruh hidupnya benar-benar dengan hati dan jiwa sebagai murid dari tuannya, yang tidak saja memulainya dengan ketaatan yang luar-biasa dalam menjawab panggilan Tuhan Yesus, tapi juga yang setia mengikut Tuhan kemanapun Tuhan Yesus pergi, setia mengikut Tuhan Yesus sampai, Yesus mati di atas kayu Salib (Perlu diingat: Satu-satunya murid Tuhan Yesus yang mengikut Tuhan Yesus sampai akhir, sampai Tuhan Yesus menghembuskan nafas terakhir di bukit Calvary. Bahkan juga setia mengikut Tuhan Yesus, walaupun Tuhan Yesus sudah tidak bersama-sama lagi dengan-Nya. Terbukti dengan adanya Yohanes di Pulau Patmos dalam menjalani masa pembuangan karena imannya dalam mengikut Tuhan Yesus. Yohanes sungguh-sungguh bermental seorang murid yang mengikuti tuannya kemanapun dan berapapun harga yang harus dibayarnya !
Bapak ibu ingat kisah pembuatan Film ‘The Passion Of The Christ’ yang pernah saya kirim ke gmiiiemcusa@yahoogroups.com ?
Jim Caviezel adalah aktor Hollywood yang memerankan Tuhan Yesus dalam
Film "The Passion Of Jesus Christ". Berikut refleksi atas perannya di
film itu.
JIM CAVIEZEL ADALAH SEORANG AKTOR BIASA DENGAN PERAN2 KECIL DALAM
FILM2 YANG JUGA TIDAK BESAR. PERAN TERBAIK YANG PERNAH DIMILIKINYA
(SEBELUM THE PASSION) ADALAH SEBUAH FILM PERANG YANG BERJUDUL " THE
THIN RED LINE". ITUPUN HANYA SALAH SATU PERAN DARI BEGITU BANYAK AKTOR
BESAR YANG BERPERAN DALAM FILM KOLOSAL ITU.
Dalam Thin Red Line, Jim berperan sebagai prajurit yang berkorban demi
menolong teman-temannya yang terluka dan terkepung musuh, ia berlari
memancing musuh kearah yang lain walaupun ia tahu ia akan mati, dan
akhirnya musuhpun mengepung dan membunuhnya. Kharisma kebaikan,
keramahan, dan rela berkorbannya ini menarik perhatian Mel Gibson,
yang sedang mencari aktor yang tepat untuk memerankan konsep film yang
sudah lama disimpannya, menunggu orang yang tepat untuk memerankannya.
"Saya terkejut suatu hari dikirimkan naskah sebagai peran utama dalam
sebuah film besar. Belum pernah saya bermain dalam film besar apalagi
sebagai peran utama. Tapi yang membuat saya lebih terkejut lagi adalah
ketika tahu peran yang harus saya mainkan. Ayolah…, Dia ini Tuhan,
siapa yang bisa mengetahui apa yang ada dalam pikiran Tuhan dan
memerankannya? Mereka pasti bercanda.
Besok paginya saya mendapat sebuah telepon, "Hallo ini, Mel". Kata
suara dari telpon tersebut. "Mel siapa?", Tanya saya bingung. Saya
tidak menyangka kalau itu Mel Gibson, salah satu actor dan sutradara
Hollywood yang terbesar. Mel kemudian meminta kami bertemu, dan saya
menyanggupinya.
Saat kami bertemu, Mel kemudian menjelaskan panjang lebar tentang film
yang akan dibuatnya. Film tentang Tuhan Yesus yang berbeda dari film2
lain yang pernah dibuat tentang Dia. Mel juga menyatakan bahwa akan
sangat sulit dalam memerankan film ini, salah satunya saya harus
belajar bahasa dan dialek alamik, bahasa yang digunakan pada masa itu.
Dan Mel kemudian menatap tajam saya, dan mengatakan sebuah resiko
terbesar yang mungkin akan saya hadapi. Katanya bila saya memerankan
film ini, mungkin akan menjadi akhir dari karir saya sebagai actor di
Hollywood.
Sebagai manusia biasa saya menjadi gentar dengan resiko tersebut.
Memang biasanya aktor pemeran Yesus di Hollywood, tidak akan dipakai
lagi dalam film-film lain. Ditambah kemungkinan film ini akan dibenci
oleh sekelompok orang Yahudi yang berpengaruh besar dalam bisnis
pertunjukan di Hollywood . Sehingga habislah seluruh karir saya dalam
dunia perfilman.
Dalam kesenyapan menanti keputusan saya apakah jadi bermain dalam film
itu, saya katakan padanya. "Mel apakah engkau memilihku karena inisial
namaku juga sama dengan Jesus Christ (Jim Caviezel), dan umurku
sekarang 33 tahun, sama dengan umur Yesus Kristus saat Ia disalibkan?"
Mel menggeleng setengah terperengah, terkejut, menurutnya ini menjadi
agak menakutkan. Dia tidak tahu akan hal itu, ataupun terluput dari
perhatiannya. Dia memilih saya murni karena peran saya di "Thin Red
Line". Baiklah Mel, aku rasa itu bukan sebuah kebetulan, ini tanda
panggilanku, semua orang harus memikul salibnya. Bila ia tidak mau
memikulnya maka ia akan hancur tertindih salib itu. Aku tanggung
resikonya, mari kita buat film ini!
Maka saya pun ikut terjun dalam proyek film tersebut. Dalam persiapan
karakter selama berbulan-bulan saya terus bertanya-tanya, dapatkah
saya melakukannya? Keraguan meliputi saya sepanjang waktu. Apa yang
seorang Anak Tuhan pikirkan, rasakan, dan lakukan.
Pertanyaan-pertanya an tersebut membingungkan saya, karena begitu banya
referensi mengenai Dia dari sudut pandang berbeda-beda.
Akhirnya hanya satu yang bisa saya lakukan, seperti yang Yesus banyak
lakukan yaitu lebih banyak berdoa. Memohon tuntunanNya melakukan semua
ini. Karena siapalah saya ini memerankan Dia yang begitu besar. Masa
lalu saya bukan seorang yang dalam hubungan denganNya. Saya memang
lahir dari keluarga Katolik yang taat, kebiasaan-kebiasaan baik dalam
keluarga memang terus mengikuti dan menjadi dasar yang baik dalam diri
saya.
Saya hanyalah seorang pemuda yang bermain bola basket dalam liga SMA
dan kampus, yang bermimpi menjadi seorang pemain NBA yang besar. Namun
cedera engkel menghentikan karir saya sebagai atlit bola basket. Saya
sempat kecewa pada Tuhan, karena cedera itu, seperti hancur seluruh
hidup saya.
Saya kemudian mencoba peruntungan dalam casting-casting, sebuah peran
sangat kecil membawa saya pada sebuah harapan bahwa seni peran munkin
menjadi jalan hidup saya. Kemudian saya mendalami seni peran dengan
masuk dalam akademi seni peran, sambil sehari-hari saya terus mengejar
casting.
Dan kini saya telah berada dipuncak peran saya. Benar Tuhan, Engkau
yang telah merencanakan semuanya, dan membawaku sampai disini. Engkau
yang mengalihkanku dari karir di bola basket, menuntunku menjadi
aktor, dan membuatku sampai pada titik ini. Karena Engkau yang telah
memilihku, maka apapun yang akan terjadi, terjadilah sesuai kehendakMu.
Saya tidak membayangkan tantangan film ini jauh lebih sulit dari pada
bayangan saya.
Di make-up selama 8 jam setiap hari tanpa boleh bergerak dan tetap
berdiri, saya adalah orang satu-satunya di lokasi syuting yang hampir
tidak pernah duduk. Sungguh tersiksa menyaksikan kru yang lain
duduk-duduk santai sambil minum kopi. Kostum kasar yang sangat tidak
nyaman, menyebabkan gatal-gatal sepanjang hari syuting membuat saya
sangat tertekan. Salib yang digunakan, diusahakan seasli mungkin
seperti yang dipikul oleh Yesus saat itu. Saat mereka meletakkan salib
itu dipundak saya, saya kaget dan berteriak kesakitan, mereka mengira
itu akting yang sangat baik, padahal saya sungguh-sungguh terkejut.
Salib itu terlalu berat, tidak mungkin orang biasa memikulnya, namun
saya mencobanya dengan sekuat tenaga.
Yang terjadi kemudian setelah dicoba berjalan, bahu saya copot, dan
tubuh saya tertimpa salib yang sangat berat itu. Dan sayapun melolong
kesakitan, minta pertolongan. Para kru mengira itu akting yang luar
biasa, mereka tidak tahu kalau saya dalam kecelakaan sebenarnya. Saat
saya memulai memaki, menyumpah dan hampir pingsan karena tidak tahan
dengan sakitnya, maka merekapun terkejut, sadar apa yang sesungguhnya
terjadi dan segera memberikan saya perawatan medis.
Sungguh saya merasa seperti setan karena memaki dan menyumpah seperti
itu, namun saya hanya manusia biasa yang tidak biasa menahannya. Saat
dalam pemulihan dan penyembuhan, Mel datang pada saya. Ia bertanya
apakah saya ingin melanjutkan film ini, ia berkata ia sangat mengerti
kalau saya menolak untuk melanjutkan film itu. Saya bekata pada Mel,
saya tidak tahu kalau salib yang dipikul Tuhan Yesus seberat dan
semenyakitkan seperti itu. Tapi kalau Tuhan Yesus mau memikul salib
itu bagi saya, maka saya akan sangat malu kalau tidak memikulnya walau
sebagian kecil saja. Mari kita teruskan film ini. Maka mereka
mengganti salib itu dengan ukuran yang lebih kecil dan dengan bahan
yang lebih ringan, agar bahu saya tidak terlepas lagi, dan mengulang
seluruh adegan pemikulan salib itu. Jadi yang penonton lihat didalam
film itu merupakan salib yang lebih kecil dari aslinya.
Bagian syuting selanjutnya adalah bagian yang mungkin paling
mengerikan, baik bagi penonton dan juga bagi saya, yaitu syuting
penyambukan Yesus. Saya gemetar menghadapi adegan itu, Karena cambuk
yang digunakan itu sungguhan. Sementara punggung saya hanya dilindungi
papan setebal 3 cm. Suatu waktu para pemeran prajurit Roma itu
mencambuk dan mengenai bagian sisi tubuh saya yang tidak terlindungi
papan. Saya tersengat, berteriak kesakitan, bergulingan ditanah sambil
memaki orang yang mencambuk saya. Semua kru kaget dan segera
mengerubungi saya untuk memberi pertolongan.
Tapi bagian paling sulit, bahkan hampir gagal dibuat yaitu pada bagian
penyaliban. Lokasi syuting di Italia sangat dingin, sedingin musim
salju, para kru dan figuran harus manggunakan mantel yang sangat tebal
untuk menahan dingin. Sementara saya harus telanjang dan tergantung
diatas kayu salib, diatas bukit yang tertinggi disitu. Angin dari
bukit itu bertiup seperti ribuan pisau menghujam tubuh saya. Saya
terkena hypothermia (penyakit kedinginan yang biasa mematikan),
seluruh tubuh saya lumpuh tak bisa bergerak, mulut saya gemetar
bergoncang tak terkendalikan. Mereka harus menghentikan syuting,
karena nyawa saya jadi taruhannya.
Semua tekanan, tantangan, kecelakaan dan penyakit membawa saya sungguh
depresi. Adegan-adegan tersebut telah membawa saya kepada batas
kemanusiaan saya. Dari adegan-keadegan lain semua kru hanya menonton
dan menunggu saya sampai pada batas kemanusiaan saya, saat saya tidak
mampu lagi baru mereka menghentikan adegan itu. Ini semua membawa saya
pada batas-batas fisik dan jiwa saya sebagai manusia. Saya sungguh
hampir gila dan tidak tahan dengan semua itu, sehingga seringkali saya
harus lari jauh dari tempat syuting untuk berdoa. Hanya untuk berdoa,
berseru pada Tuhan kalau saya tidak mampu lagi, memohon Dia agar
memberi kekuatan bagi saya untuk melanjutkan semuanya ini. Saya tidak
bisa, masih tidak bisa membayangkan bagaimana Yesus sendiri melalui
semua itu, bagaimana menderitanya Dia. Dia bukan sekedar mati, tetapi
mengalami penderitaan luar biasa yang panjang dan sangat menyakitkan,
bagi fisik maupun jiwaNya.
Dan peristiwa terakhir yang merupakan mujizat dalam pembuatan film itu
adalah saat saya ada diatas kayu salib. Saat itu tempat syuting
mendung gelap karena badai akan datang, kilat sambung menyambung
diatas kami. Tapi Mel tidak menghentikan pengambilan gambar, karena
memang cuaca saat itu sedang ideal sama seperti yang seharusnya
terjadi seperti yang diceritakan. Saya ketakutan tergantung diatas
kayu salib itu, disamping kami ada dibukit yang tinggi, saya adalah
objek yang paling tinggi, untuk dapat dihantam oleh halilintar. Baru
saja saya berpikir ingin segera turun karena takut pada petir, sebuah
sakit yang luar biasa menghantam saya beserta cahaya silau dan suara
menggelegar sangat kencang (setan tidak senang dengan adanya pembuatan
film seperti ini). Dan sayapun tidak sadarkan diri.
Yang saya tahu kemudian banyak orang yang memanggil-manggil
meneriakkan nama saya, saat saya membuka mata semua kru telah
berkumpul disekeliling saya, sambil berteriak-teriak "dia sadar! dia
sadar!" (dalam kondisi seperti ini mustahil bagi manusia untuk bisa
selamat dari hamtaman petir yang berkekuatan berjuta-juta volt
kekuatan listrik, tapi perlindungan Tuhan terjadi disini).
"Apa yang telah terjadi?" Tanya saya. Mereka bercerita bahwa sebuah
halilintar telah menghantam saya diatas salib itu, sehingga mereka
segera menurunkan saya dari situ. Tubuh saya menghitam karena hangus,
dan rambut saya berasap, berubah menjadi model Don King. Sungguh
sebuah mujizat kalau saya selamat dari peristiwa itu.
Melihat dan merenungkan semua itu seringkali saya bertanya, "Tuhan,
apakah Engkau menginginkan film ini dibuat? Mengapa semua kesulitan
ini terjadi, apakah Engkau menginginkan film ini untuk dihentikan"?
Namun saya terus berjalan, kita harus melakukan apa yang harus kita
lakukan. Selama itu benar, kita harus terus melangkah. Semuanya itu
adalah ujian terhadap iman kita, agar kita tetap dekat padaNya, supaya
iman kita tetap kuat dalam ujian.
Orang-orang bertanya bagaimana perasaan saya saat ditempat syuting itu
memerankan Yesus. Oh… itu sangat luar biasa… mengagumkan… tidak dapat
saya ungkapkan dengan kata-kata. Selama syuting film itu ada sebuah
hadirat Tuhan yang kuat melingkupi kami semua, seakan-akan Tuhan
sendiri berada disitu, menjadi sutradara atau merasuki saya memerankan
diriNya sendiri.
Itu adalah pengalaman yang tak terkatakan. Semua yang ikut terlibat
dalam film itu mengalami lawatan Tuhan dan perubahan dalam hidupnya,
tidak ada yang terkecuali. Pemeran salah satu prajurit Roma yang
mencambuki saya itu adalah seorang muslim, setelah adegan tersebut, ia
menangis dan menerima Yesus sebagai Tuhannya. Adegan itu begitu
menyentuhnya. Itu sungguh luar biasa. Padahal awalnya mereka datang
hanya karena untuk panggilan profesi dan pekerjaan saja, demi uang.
Namun pengalaman dalam film itu mengubahkan kami semua, pengalaman
yang tidak akan terlupakan.
Dan Tuhan sungguh baik, walaupun memang film itu menjadi kontroversi.
Tapi ternyata ramalan bahwa karir saya berhenti tidak terbukti. Berkat
Tuhan tetap mengalir dalam pekerjaan saya sebagai aktor. Walaupun saya
harus memilah-milah dan membatasi tawaran peran sejak saya memerankan
film ini.
Saya harap mereka yang menonton The Passion Of Jesus Christ, tidak
melihat saya sebagai aktornya. Saya hanyalah manusia biasa yang
bekerja sebagai aktor, jangan kemudian melihat saya dalam sebuah film
lain kemudian mengaitkannya dengan peran saya dalam The Passion dan
menjadi kecewa.
Tetap pandang hanya pada Yesus saja, dan jangan lihat yang lain. Sejak
banyak bergumul berdoa dalam film itu, berdoa menjadi kebiasaan yang
tak terpisahkan dalam hidup saya. Film itu telah menyentuh dan
mengubah hidup saya, saya berharap juga hal yang sa
Yohanes tidak sedang bermain film atau sedang memerankan bagaimana menjadi seorang murid, tapi dia sungguh-sungguh menjalani sleuruh hidupnya dengan mental dan jiwa seorang murid. Yohanes benar-benar menunjukkan kualitas sebagai murid sejati.
SIAPAKAH YOHANES?
* Yohanes seorang manusia biasa yang berasal dari keluarga biasa yakni keluarga nelayan. Ayahnya bernama Zebedeus yang adalah seorang nelayan. Ibunya bernama Salome – Saudara dari Maria Ibu Yesus. Bahkan ada yang mencatat kemungkinan Yohanes adalah yang termuda dari semua murid Tuhan Yesus. Dicatat juga oleh Alkitab bahwa Yohanes bersama saudaranya Yakobus punya kelemahan karakter yakni punya sifat pemarah dan emosional, oleh karena itu mereka berdua diberi nama ‘Boanerges’ oleh Tuhan Yesusyang berarti Putera-putera guruh. Bahkan dicatat oleh Alkitab, Yohanes pernah tiga kali ditegur oleh Tuhan Yesus karena tidak bias mengerti pengajaran Tuhan Yesus. Yohanes juga tercatat sebagai satu-satunya murid Tuhan Yesus yang tidak mati martir karena imannya kepada Yesus. Dia mati secara wajar.
* Coba kita perhatikan : Apa yang dimiliki Yohanes sama sekali tidak mengesankan. Dia tidak pernah masuk sekolah alkitab. Bahkan sangat mungkin pengetahuan Alkitabnya tidak lebih dari pada orang-orang lain pada masa itu. Mungkin Yohanes memang terkenal sebagai orang baik-baik, orang yang jujur dan seorangpekerja keras, namun dia tidak lebih dari itu. Tetap seorang manusia biasa.
* Yang berikut adalah : Yohanes juga memiliki unsure-unsur kepribadian yang kurang terpuji. Yohanes terkenal sebagai seorang pemarah, makanya Tuhan Yesus menyebut dia dan Yakobus saudaranya “anak-anak Guntur/guruh”. Apa yang menjadi kelebihan Yohanes?
BELAJAR DARI PROFIL RASUL YOHANES
1. Yohanes manusia biasa tapi memiliki ketaatan yang sangat luar-biasa kepada Tuhan yang memanggil dia. Dia rela tinggalkan cara hidupnya yang lama, tinggalkan keluarganya yang seharusnya menjadi tanggungannya bahkan tinggalkan pekerjaannya yang lama hanya untuk mengikut Yesus – Seorang penjala ikan berubah menjadi seorang penjala manusia. Yang menjadikan Yohanes manusia luar-biasa adalah ketaatannya. Dia tidak sekedar puas karena Tuhan Yesus memilih dia masuk dalam jajaran para murid yang memang sangat diharapkan oleh Tuhan untuk megubah dunia nantinya, tapi Yohanes benar-benar menunjukkan kualitas sebagai orang yang dipilih Tuhan. Hidup dalam menghargai panggilan Tuhan dalam hidupnya. Ini bicara soal Ketaatan & Komitmen Total !
2. Yohanes manusia biasa tapi punya nama yang luar-biasa atau khusus di antara para murid yakni ‘Murid Yang Dikasihi’. Sebutan ini berulangkali digunakan dalam Injil Yohanes dan kitab Wahyu. Apa artinya ini? Apakah berarti Tuhan Yesus mengasihi Yohanes lebih dari murid lainnya. Tidak, tapi sebutan ini menunjukkan bahwa Yohanes benar-benar merasakan dan mengalamikasih Tuhan yang besar dalam hidupnya. Oleh karena itu ia pun mempersembahkan seluruh hidupnya sampai matinya. Demi kasihnya kepada Tuhan, Yohanes berani mengesampingkan rasa takutnya, menemani Yesus sampai saat Dia berada di atas kayu salib dan melakukan pesan Tuhannya dengan penuh ketaatan. Bahkan saat gurunya telah tiada sekalipun, Yohanes tetap melayani Tuhan sampai akhir hidupnya, bahkan meski ia harus mengalami masa pembuangan di Pulau Patmos. Kesetiaannya tetap tidak luntur ! Pengalaman imannya ini dapat kita lihat jelas jika membaca semua tulisannya dalam 5 kitab, yakni Injil Yohanes, 3 Surat Yohanes dan Kitab Wahyu. Disini kita sedang bicara soal Kasih & Pengorbanan Total dari seorang Yohanes biasa ! Yohanes tidak menggambarkan seorang murid Tuhan yang pengecut, hanya mengaku orang pilihan, mengaku murid tapi tidak menunjukkan kualitas seorang pilihan dan seorang murid Tuhan !
3. Yohanes juga mewakili orang-orang biasa yang diberi kepercayaan yang luar-biasa oleh Tuhannya. Tercatat bahwa Yohanes murid termuda, tapi dialah yang diberi kepercayaan akhirnya oleh Tuhan untuk mendapatkan penglihatan tentang akhir zaman dan tentang dunia yang baru yang kemudian ia tuangkan dalam tulisannya pada Kitab Wahyu. Ingatlah satu hal : Tuhan seringkali berbuat hal-hal yang luar-biasa justru melalui saluran-saluran yang sederhana.
Contohnya adalah :
Seorang filsuf Inggris bernama Thomas Carlyle, yang bukanlah orang Kristen, pernah mengatakan, "Setiap gerakan luar biasa di dunia ini dimulai dari satu hal minoritas (kecil)." Bahkan orang-orang duniapun bijaksana dan tahu hal itu. Setiap gerakan luar biasa dimulai dari hal minoritas (kecil). Seberapa benar hal itu. Rupanya Carlyle sudah belajar sesuatu dari sejarah. Contohnya, Alexander Agung yang menaklukkan dunia. Semuanya dimulai dengan hanya satu orang saja.
Beberapa orang, seperti Konfusius, yang punya gagasan, Dia menaklukkan Cina dengan gagasan Konfusianisme, ajaran moril tentang suatu filsafat meskipun bukanlah sebuah agama. Seluruh Cina hidup di bawah ajaran Konfusius selama bertahun-tahun dan orang-orang memperoleh banyak keuntungan di banyak hal.
Sama dengan sejarah Gereja. Suatu ketika, ada seorang yang berdiri melawan masyarakat. Dia dikutuk, dihukum, dipandang rendah tetapi karena karya Allah bekerja, dia akhirnya menang. Contohnya Luther. Dia berhadapan dengan kebesaran Gereja Roma pada saat itu - Kekaisaran Suci Roma. Hanya seorang diri - seseorang bernama Luther yang hampir tidak dikenal masyarakat - berjuang dan berbicara firman Tuhan. Kebanyakan orang bahkan malah tidak memikirkan untuk melakukan sesuatu seperti ini. Mereka mungkin akan berkata, "Apa mungkin kamu seorang diri yang benar sedangkan seluruh gereja salah? Tidak tahukah kamu bahwa Paus itu sempurna? Apakah engkau baru dilahirkan kemarin?" Tetapi Luther berdiri dan berbicara tentang kebenaran, menyatakan firman Tuhan. Hari ini, Gereja Katolik pun akhirnya menyadari bahwa bagaimanapun juga Luther benar di banyak hal. Sejak Vatican II, sudah ada usaha damai. Umat Khatolik tidak akan mencoba hal itu kecuali mereka sadar bahwa Luther itu benar.
Pada abad ke-18, John Wesley berdiri melawan korupsi di gereja Anglikan dan berkhotbah tentang kesucian, seorang diri melawan seluruh Gereja. Dia tidak boleh berkhotbah di seluruh gereja; Bahkan dia tidak boleh berkhotbah di gereja ayahnya, di mana ayahnya ialah seorang pendeta dan dia sendiri adalah seorang pendeta Gereja Inggris yang ditahbiskan. Nyatanya, dia tidak boleh berkhotbah di mana pun. Gereja menghukum dia agar dia diam. Tetapi dia tidak dapat dihalangi. Dia berdiri di ladang dan berkhotbah; dia berdiri di jalan dan berkhotbah. Dia tidak akan diam.
Bagi Wesley, ia seorang diri melawan seluruh dunia. Banyak orang yang akan menyerangnya dan bertanya, "Memangnya siapa dirimu itu? Apa mungkin kamu seorang diri yang benar sedangkan seluruh gereja salah? Memangnya siapa kamu itu? Kamu terlalu sombong." Semua orang mengutuknya tetapi dia terus berkhotbah karena Tuhan yang menaruh di hatinya pesan keselamatan dan kesucian. Hari ini, aliran Metodis, yang diserukan oleh Wesley, sudah menyebar ke seluruh dunia dan Gereja Inggris berusaha berdamai dengan Gereja Metodis. Mereka mau dipersatukan lagi. Itu karena mereka mengakui bahwa banyak hal yang tepat pada aliran Metodis.
Berkali-kali di sejarah dunia, kita melihat bahwa satu biji sesawi, satu pelayanan kecil bagi Tuhan, akan tumbuh ke menjadi hal besar. Tentunya, pada saat awal merupakan hari kesepian ketika anak- anak Tuhan seperti Wesley dan Luther dicela, dan dihakimi terus-menerus. Tetapi dari biji sesawi yang kecil itu tumbuh karya Tuhan yang sangat besar. Oleh sebab itu jangan takut menjadi kaum minoritas. Umat Tuhan berbicara karena api yang menyala di hati mereka. Seperti kata Luther, "Di sini aku berdiri," ketika dia disuruh menarik perkataannya atau ia akan menghadapi pengucilan. Dia mengatakan, "Di sini aku berdiri; aku tidak akan pindah. Aku tidak bisa menyangkal kata hatiku di hadapan Tuhan. Tuhan yang sudah ada di hatiku, aku harus berbicara. Kamu bisa mengucilkan aku, kamu bisa membasmiku jika kamu suka. Lakukan apapun yang kamu suka tapi di sinilah aku berdiri aku tidak akan pindah. Dan kita patut bersyukur karena dia berdiri dengan kukuh. Luther adalah salah seorang yang harus membayar harga karena imannya. Mereka mesti jatuh dalam tanah dan mati agar pohon yang membawa kemuliaan itu kepada Tuhan dapat tumbuh pesat.
Seperti halnya Tuhan Yesus yang seorang diri saja. Semua pemimpin bangsa - termasuk para ahli Taurat dan imam-imam besar - melawan Dia. Di jaman perjanjian Baru para ahli Taurat ialah orang-orang yang terpelajar yang pada jaman modern seperti sekarang ini disebut sebagai pengacara. Saat itu mereka mungkin mengatakan, "Bisakah engkau disebut benar jika para ahli agama melawan Engkau?" Menurut saya, mereka gerombolan kecil orang-orang yang mengikuti-Nya - yakni murid-murid-Nya. Oleh kasih karunia Tuhan mereka tentunya mempunyai keberanian luar biasa. Tetapi lihat apa yang sudah terjadi. Yesus mati dan kemudian bangkit, tepat seperti biji sesawi. Saat ini, bangsa - bangsa berlindung di bawah naungannya. Di negara seperti Kanada, Amerika Serikat dan Jerman, Alkitab dipakai di setiap undang-undang pengadilan. Dan mereka bersumpah di atas firman Tuhan. Hal itu sungguh menunjukkan bahwa mereka semua mau berlindung di bawah pohon sesawi.
Semakin dekat hari dimana setiap bangsa akan berada dalam pemerintahan Allah. Hal itu akan segera terjadi pada saat Dia lagi datang. Tetapi, diperlukan iman percaya bahwa ini akan terjadi. Sama seperti penggenapan nubuat Allah yang sudah menjadi kenyataan - yakni anak Allah (Kristus) yang telah datang dan lahir di dunia maka nubuat bahwa Dia akan kembali akan digenapi. Biarlah para pengejek mengejek tetapi pada hari kedatangan Kristus mereka akan berlutut seperti yang lain dan mengakui Dia sebagai Tuhan.
Nampak jelas bahwa kerajaan Tuhan akan menyebar di seluruh dunia. Sungguhpun begitu, lihatlah bagaimana sempurnanya keadilan Tuhan. Murid-murid Tuhan kala itu pastilah benar-benar bersuka ria ketika Tuhan mengatakan kepada mereka tentang perumpamaan nubuat biji sesawi ini. Mereka pasti bersorak, "Horee, Tuhan kita akan memerintah dari laut ke laut! Dan matahari tidak akan pernah terbenam diatas kerajaan-Nya dan kita akan memerintah dengan bersama-sama dengan Dia!" Untuk meyakinkan agar mereka tidak terlalu bersuka ria tentang itu, Tuhan menyeimbangkan keadaan dengan memberi mereka kata "waspada" di perumpamaan berikutnya yakni perumpamaan tentang ragi.
KESIMPULAN
Yohanes adalah seorang manusia biasa, tapi memulai hidupnya yang baru dengan sangat luar-biasa dengan ketaatan yang luar-biasa, dia juga menjalani panggilan Tuhan dalam hidupnya dengan komitmen yang luar biasa bahkan mengakhiri hidupnya dengan luar-biasa karena dilandasi oleh kasihnya yang sangat luar-biasa terhadap Tuhannya yang telah memilih dan memanggil bahkan mengasihi dia. Seorang manusia biasa, mulanya biasa saja, tapi akhirnya luar-biasa. Orang-orang Katolik percaya bahwa Yohanes mati pada tahun 100 dan di atas makamnya telah dibangun sebuah gereja.
Kisah lain dari Kapal Titanic :
Banyak pasangan kekasih bersumpah akan selalu bersama selamanya, sepanjang hayat maupun ketika menghadapi maut, tetapi aku belum pernah mendengar kesetiaan dan pengabdian yang dapat dibandingkan dengan kesetiaan dan pengabdian Bu Isidor Straus. Pada tahun 1912, Bu Starus dan suaminya naik Tiotanic dalam pelayaran perdananya yang membawa maut itu. Tak banyak wanita yang tenggelam bersama kapal itu, tetapi Bu Starus adalah satu dari sedikit wanita yang tidak selamat karena alas an sederhana: Dia tidak tega meninggalkan suaminya.
Beginilah Mabel Bird, pelayan Bu Strauss yang selamat dari kecelakaan itu, bercerita setelah dia diselamatkan:
“Ketika Titanic mulai tenggelam, wanita-wanita yang panic dan anak-anak adalah yang pertama-tama dipindahkan ke sekoci. Pak dan ibu Strauss tampak tenang dan menghibur para penumpang, mereka bahkan menolong orang-orang naik ke sekoci. Kalau tidak karena mereka kata Mabel, aku pasti tenggelam. Aku orang keempat yang naik ke sekoci kelima. Bu Strauss menyuruhku naik, lalu menyelelimutiku dengan selimut hangat. Kemudian Bu Strauss menyuruh isterinya naik menyusul pelayannya dan orang-orang lain. Bu Strauss beranjak hendak naik. Satu kakinya sudah berada di dalam sekoci, tetapi tiba-tiba dia berubah pikiran, dia berbalik lalu melangkah kembali ke kapal yangsedang tenggelam. Sayangku naiklah ke sekoci….suaminya memohon. Bu Strauss lekat-lekat menatap mata pria itu dengan siapa dia menghabiskan sebagian besar hidupnya, pria yang menjadi sahabat karibnya, belahan jiwanya yang sejati dan yang selalu memberikan penghiburan kepadanya. Dia meraih tangan suaminya dan mendekap tubuh pak Strauss yang gemetar ke dadanya. Tidak kata Bu Strauss….dengan gagah seperti kemudian diceritakan orang……Aku tidak akan naik ke sekoci. Kita sudah bersama-sama selama bertahun-tahun. Kita sudah tua sekarang. Aku tidak akan meninggalkanmu. Kemana pun engkau pergi, aku ikut.
Dan, begitulah mereka terlihat untuk terakhir kalinya, berdiri berpelukan di geladak, wanita yang penuh pengabdian itu dengan mantap berlindung dalam pelukan suaminya, sementara suaminya dengan penuh cinta memeluk dan melindunginya.
Inilah yang digambarkan oleh Yohanes: Seorang manusia biasa tapi memiliki kasih yang luarbiasa kepada Tuhannya. Kasih yang penuh pengabdian diri, komitmen, dan pengorbanan serta kesetiaan yang luar-biasa ! Amin !
PENUTUP / TANTANGAN
Bagaimana dengan kita yang seringkali mengaku sebagai murid Tuhan Yesus. Seringkali bangga dengan status orang yang dipilih Tuhan. Seringkali memakai ayat Yohanes 15:16 : Bukan aku yang memilih Tuhan, tapi Tuhan sendiri yang memilih saya! Tapi apakah yang kita lakukan sebagai orang pilihannya? Orang-orang pilihan raja dan panglima dalam dunia ini selalu bertindak total dalam pengabdian terhadap pemimpinnya ( Contoh USA Army). Bagaimana dengan kita ? Apakah kita menghargai panggilan dan pilihan itu? Apakah kita membuktikan diri sebagai orang pilihan Tuhan dalam dunia ini?
SELIDIKI AKU…..LIHAT HATIKU……
APAKAH KU SUNGGUH MENGASIHIMU YESUS…..
KAU YANG MAHATAHU…..
DAN MENILAI HIDUPKU…...
TAK ADA YANG TERSEMBUNYI BAGIMU……
TLAH KULIHAT……
KEBAIKKANMU……
YANG TAK PERNAH HABIS DI HIDUPKU……
KUBERJUANG……..SAMPAI AKHIRNYA……
KAU DAPATI……
AKU TETAP SETIA !