You are here: Home > Pastor's Blog

Pastor's Blog


March 16, 2009, 11:51 am
Teks Alkitab : Wahyu 2:1-7. Dikhotbahkan oleh: Pdt. Ricky Lomban pada Kebaktian Tutup & Buka Tahun GMII Downey, 31 Desember 2007.
INTRODUKSI

Elizabeth Barret dan Robert Browning adalah dua penyair berbakat yang ditakdirkan menciptakan surat-surat cinta paling menakjubkan dalam kesusasteraan Inggris. Robert Browning belum pernah bertemu Elizabeth, mereka tidak saling kenal kecuali lewat karya-karya mereka yang sudah diterbitkan. Dua-duanya terkenal dan saling mengangumi serta menghormati karya masing-masing. Kekaguman ini menjadi katalisator ketika Robert menulis sepucuk surat penuh kekaguman kepada Elizabeth pada tanggal 10 Januari 1845:

Saya menyukai semua puisi anda dengan sepenuh hati. Miss Barret yang terhormat, yang saya tulis ini bukan surat pujian biasa, bukan pula semata-mata pengakuan atas kejeniusan anda, karena dalam karya anda tersimpul sesuatu yang anggun serta alamiah. Sejak hari itu, minggu lalu, ketika pertama kali say abaca puisi-puisi anda, saya tertawa bila ingat betapa saya berpikir keras mencari cara bagaimana saya bias menyampaikan kepada anda betapa besar pengaruh puisi anda terhadap diri saya, karena dalam luapan kegembiraan saya berpikir bahwa kali ini saya akan meninggalkan kebiasaan saya menikmati puisi secara benar-benar pasif, waktu saya sedang menikmatinya, dan secara cermat membenarkan kekaguman saya, bahkan mungkin seperti seharusnya di antara sesame seniman yang setia, mencoba menemukan kesalahan dan melakukan sesuatu yang berguna yang kelak bias dibanggakan! – tetapi tak sesuatu pun terjadi – sesuatu dalam diri saya lenyap dan sebagian dari diri saya menjadi…waktu saya menyapa anda – diri anda sendiri dan untuk pertama kali perasaan saya tergugah. Saya, seperti saya katakana, mencintai buku-buku anda dengan sepenuh hati dan saya juga mencintai anda.

Elizabeth berumur 39, kesehatannya buruk dan jarang sekali keluar rumah. Hidupnya didominasi ayahnya yang melarang anak-anaknya menikah. Karena larangan ayahnya, mereka bersurat-suratan secara rahasia. Surat-menyurat mereka begitu sering dan panjang hingga mencapai dua jilid tebal setelah dibukukan. Elizabeth mengungkapkan masa pacaran mereka, sejak perkenalan pertama, dalam karyanya yang termasyur ‘sonnets from the portuguese’. Soneta-soneta itu melukiskan semua emosi manusiawi termasuk kebahagiaan, kekecewaan, rasa percaya diri dan tentu saja tentang ‘cinta’.

Di bulan Mei 1845, Elizabeth akhirnya mengijinkan Robert mengunjunginya. Sejak itu mereka bertemu sekali seminggu secara sembunyi-sembunyi. Di bulan September Elizabeth menuliskan, “Kau telah menyentuhku sedemikian hingga melebihi arti sentuhanmu yang kubayangkan akan bias kau lakukan…Sejak saat ini aku adalah milikmu; aku bersedia melakukan apa saja demi kau, kecuali menyakitimu.”

Mereka terus berkencan dengan sembunyi-sembunyi, sampai setahun kemudian dan hamper setiap hari saling berkirim surat, kadang-kadang bahkan dua kali sehari. Setelah menolak langkah-langkah nekat Robert, akhirnya Elizabeth takluk karena surat dan kunjungan Robert yang menggebu-nggebu dan mereka pun menjadi sepasang kekasih.

Robert mendesak Elizabeth, mengajaknya menikah dan pindah ke Itali. Elizabeth ragu-ragu, tetapi setelah berpikir masak-masak dia setuju. Tahu bahwa ayah Elizabeth pasti tidak menyetujui perkawinan mereka, Robert dan Elizabeth diam-diam menikah pada 12 September 1846. Seminggu kemudian mereka meninggalkan Inggris, pindah ke Italia. Mula-mula mereka pergi ke Pisa, lalu ke Florence, akhirnya ke rumah mereka, Casa Guidi. Elizabeth tak pernah bertemu ayahnya lagi. Ayahnya tak pernah memaafkannya. Semua surat Elizabeth kepada ayahnya dikembalikan tanpa dibuka. Kalau tidak karena cinta mereka, dunia mungkin takkan berkesempatan menikmati rangkaian kata-kata indah penuh makna dari sepasang sastrawan tersohor bernama Robert & Elizabeth Browning….

ISI KHOTBAH

Kota Efesus adalah kota terbesar di Asia Kecil. Juga merupakan kota pelabuhan terbesar di Asia kecil. Jemaat Kristen Efesus dimulai oleh Rasul Paulus dalam pelayanannya pada tahun 55 dan terus mengalami perkembangan sampai pada thaun 70. Sehingga Jemaat Efesus pada waktu itu dikenal sebagai ‘the center of the Christian world’. Sehingga ada ungkapan yang muncul pada waktu itu, ‘siapa menyentuh Efesus, itu berarti menyentuh seluruh dunia’.

Tetapi, Alkitab mencatat paling tidak dua hal, ketika Tuhan berjalan dan menilai Jemaat Efesus dalam penglihatan Rasul Yohanes di Pulau Patmos….yang perlu kita ingat adalah yang melihat dan menilai adalah Tuhan yang Mahatahu :

1. Kristus tahu segala kelebihan dan hal-hal positif yang ditunjukkan oleh jemaat Efesus : Jerih lelah mereka, ketekunan mereka, ketegasan mereka menentang ajaran sesat, sabar menderita.
2. Kristus tahu juga penyakit rohani Jemaat Efesus .Bagi Tuhan penyakit ini sangat fatal sehingga Alkitab mencatat Tuhan mencela mereka :  Mereka meninggalkan kasih  yang semula !
3. Kristus memperingatkan mereka : Mereka harus ingat bahwa betapa dalamnya mereka telah jatuh, mereka harus bertobat, agar mereka melakukan kembali apa yang semula mereka lakukan, yaitu kasih mereka yang semula. Jika tidak demikian, Kristus akan mengambil kaki dian dari mereka.

Apakah yang Tuhan maksudkan dengan ‘Kasih Semula’ : Kasih yang pertama, kasih yang murni dan hangat, kasih tanpa pamrih, kasih tanpa kalkulasi dan tanpa perhitungan untung rugi, kasih yang berkobar-kobar kepada Allah dan sesame ketika pertama kali mengambil keputusan percaya kepada Tuhan Yesus.

Apakah arti kaki dian diambil dari jemaat Efesus? Tanpa kasih kita bukan orang percaya, tanpa kasih gereja bukanlah gereja. Yang seharusnya kita khawatirkan mengakhiri tahun 2007 dan mempersiapkan diri memasuki tahun 2008 adalah: Apakah hari ini kita masih berfungsi sebagai orang yang percaya kepada Kristus? Apakah gereja kita masih berfungsi sebagai gereja? Orangnya ada, gerejanya ada, aktivitas rohani kita masih ada, kegiatan gereja kita masih terus berjalan tapi tidak ada cahaya lagi! Tidak ada sesuatu lagi yang bias mempengaruhi dunia ini dari diri kita, dari gereja kita! Mungkin kita perlu bertobat lagi !

Fase kehidupan manusia:
LAHIR SECARA JASMANI à LAHIR SECARA ROHANI à MENINGGALKAN KASIH SEMULA à PERLU BERTOBAT LAGI

Apakah arti kehidupan bagi kita?
RICCK WARREN: KEHIDUPAN INI UJIAN, KEHIDUPAN INI KEPERCAYAAN, KEHIDUPAN INI ADALAH PENUGASAN SEMENTARA DARI TUHAN.

PENUTUP

Bagian Firman Tuhan ini berbicara cukup kuat untuk saya dalam mengakhiri tahun 2007 dan bersiap untuk memasuki tahun 2008. Ketika membaca bagian ini, saya merenungkan dan mengevaluasi kembali hidup rohani dan juga pelayanan saya., Saya mengingat kembali bagaimana ketika saya pertam kali bertobat, ketika saya pertam kali Tuhan beri kesempatan melayani Tuhan, ketika pertam kali saya berkesempatan menginjili orang lain…….Saya malu dihadapan Tuhan! Ketika merenungkan tentang ‘Kasih Semula’ dalam bagian ini, saya merenungkan beberap hal dalam hidup saya:

1. Bagaimanakah pertumbuhan rohani saya sampai hari ini?
2. Bagaimanakah kasih saya terhadap isteri, anak-anak, jemaat saya dan juga kasih saya terhadap orang lain?
3. Bagaimanakah pengorbanan saya dalam pelayanan saya sebagai seorang hamba Tuhan?
4. Bagaimanakah saya menentukan ‘prioritas’ dalam hidup saya, tidak saja sebagai hamba Tuhan tetapi sebagai orang percaya, anak yang telah ditebus oleh BapaNya. Apalagi dengan mengingat bahwa hidyup ini adalah kepercayaan dan penugasan sementara dari Tuhan yang nantinya akan saya pertanggung-jawabkan kepada Tuhan.

Banyak pasangan kekasih bersumpah akan selalu bersama selamanya, sepanjang hayat maupun ketika menghadapi maut, tetapi aku belum pernah mendengar kesetiaan dan pengabdian yang dapat dibandingkan dengan kesetiaan dan pengabdian Bu Isidor Straus. Pada tahun 1912, Bu Starus dan suaminya naik Tiotanic dalam pelayaran perdananya yang membawa maut itu. Tak banyak wanita yang tenggelam bersama kapal itu, tetapi Bu Starus adalah satu dari sedikit wanita yang tidak selamat karena alas an sederhana: Dia tidak tega meninggalkan suaminya.

Beginilah Mabel Bird, pelayan Bu Strauss yang selamat dari kecelakaan itu, bercerita setelah dia diselamatkan:

“Ketika Titanic mulai tenggelam, wanita-wanita yang panic dan anak-anak adalah yang pertama-tama dipindahkan ke sekoci. Pak dan ibu Strauss tampak tenang dan menghibur para penumpang, mereka bahkan menolong orang-orang naik ke sekoci. Kalau tidak karena mereka kata Mabel, aku pasti tenggelam. Aku orang keempat yang naik ke sekoci kelima. Bu Strauss menyuruhku naik, lalu menyelelimutiku dengan selimut hangat. Kemudian Bu Strauss menyuruh isterinya naik menyusul pelayannya dan orang-orang lain. Bu Strauss beranjak hendak naik. Satu kakinya sudah berada di dalam sekoci, tetapi tiba-tiba dia berubah pikiran, dia berbalik lalu melangkah kembali ke kapal yangsedang tenggelam. Sayangku naiklah ke sekoci….suaminya memohon. Bu Strauss lekat-lekat menatap mata pria itu dengan siapa dia menghabiskan sebagian besar hidupnya, pria yang menjadi sahabat karibnya, belahan jiwanya yang sejati dan yang selalu memberikan penghiburan kepadanya. Dia meraih tangan suaminya dan mendekap tubuh pak Strauss yang gemetar ke dadanya. Tidak kata Bu Strauss….dengan gagah seperti kemudian diceritakan orang……Aku tidak akan naik ke sekoci. Kita sudah bersama-sama selama bertahun-tahun. Kita sudah tua sekarang. Aku tidak akan meninggalkanmu. Kemana pun engkau pergi, aku ikut.

Dan, begitulah mereka terlihat untuk terakhir kalinya, berdiri berpelukan di geladak, wanita yang penuh pengabdian itu dengan mantap berlindung dalam pelukan suaminya, sementara suaminya dengan penuh cinta memeluk dan melindunginya. 

Amin!

No comments yet.
(*) Required fields

 
Quick Facts

Pastor
Rev. Ricky David Lomban

Sunday Service
starts at 3:30 PM

Address
7360 Foster Bridge Blvd.
Downey, CA, 90240

Come and Join Us!!!

 
Karena tidak ada seorangpun yang dapat meletakkan dasar yang lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus (1 Kor. 3:11)
     
Gereja Misi Injili Indonesia - U.S.A. (Downey, CA) | 2007 - 2011
Website design and management by EnggWeb.com
Home

Our Programs

Local Programs
Mission Programs

Pastor's Blog

 

News

About Us

History of GMII
Vision & Mission
Our Pastor
Our Congregations

Events
Galleries

 

Contact

Local Pastor
Fellowship Schedule
Church Address
Administrative
Children Ministry
Counseling & Prayer
Contact Form