March 16, 2009, 11:48 am
Teks Alkitab : Rut 1 : 1-22
INTRODUKSI
Siapakah diantara kita yang tidak mengenal Billy Graham? Tetapi, adakah diantara kita yang tahu siapakah pribadi yang menjadi penyebab utama kesuksesan dan kebesaran seorang Billy Graham? Siapakah yang mengenal Ruth Graham? Apakah yang Billy Graham katakan tentang isterinya :
"Ruth was my life partner, and we were called by God as a team," Billy Graham said in a statement. "No one else could have borne the load that she carried. She was a vital and integral part of our ministry, and my work through the years would have been impossible without her encouragement and support.
"I am so grateful to the Lord that He gave me Ruth, and especially for these last few years we've had in the mountains together. We've rekindled the romance of our youth, and my love for her continued to grow deeper every day. I will miss her terribly, and look forward even more to the day I can join her in Heaven.
KALIMAT PERALIHAN
Kita semua mengenal Daud, bahkan pasti mengenal yang namanya Yesus Kristus dari Nazareth. Tapi siapakah diantara kita yang pernah mengetahui yang namanya Isai? Siapakah diantarak ita yang pernah mengetahui yang namanya Obed? Apakah kita tahu bahwa ada seorang wanita sederhana yang ternyata tercatat sebagai nenek moyang dari Juruselamat? Seorang wanita yang sederhana tetapi mempengaruhi dunia ini dengan begitu luar-biasa? Itulah RUT.
SIAPAKAH RUT SEBENARNYA?
* Rut berarti: Persahabatan
* Seorang wanita biasa yang lahir di Moab, daerah kafir dan penyembah berhala. Terlahir sebagai penyembah berhala.
* Dia bukan orang Israel, bukan orang Yahudi, itu berarti bukan terlahir dari bangsa pilihan Allah.
* Dinikahi oleh seorang pria Yahudi / Israel, tetapi kemudian ditinggal mati.
YANG MENARIK UNTUK DISIMAK ADALAH, ADA BEBERAPA CATATAN TENTANG WANITA INI DALAM ALKITAB KITA :
* Rela meninggalkan keluarganya, negerinya dan kepercayaannya dan mengambil keputusan bulat untuk tetap mengikuti mertuanya, pulang ke Israel. (Baca Rut 1:11-22)
* Dikenal dengan pernyataannya yang agung dalam Rut 1:16-17 : “Bangsamulah bangsaku, Allahmulah Allahku.”
* Ketika sampai di Israel, semua orang mengenalnya sebagai perempuan baik-baik (Rut 3:11).
* Karena tradisi Israel, sebagai pendatang, sebagai orang asing dan sebagai orang miskin, Ia harus pergi ke ladang untuk memungut jelai dari hasil panen yangterlewat para pemungut Israel untuk makanan mereka. Dilihat oleh seorang laki-laki bernama Boas yang kebetulan adalah sanak-saudara mertuanya. Boas rupanya telah banyak mendengar mengenai siapakah Rut dan bagaimanakah sampai Ia ada di Israel.
* Pendek cerita, terjadilah sepertinya naksir menaksir, terjadilah jodoh menjodohkan (sepertinya), terjadilah tebus-menebus (ceritakan sedikit tradisi soal penebusan – ada orang lain yang lebih berhak – Rut 4)
* Akhirnya Boas menikahi Rut. Dan, Alkitab mencatat Boas dan Rut memperanakkan Obed, Obed memperanakkan Isai, Isai memperanakkan Daud, dan dari Daud lahirlah yang namanya Yesus Kristus.
APAKAH YANG DAPAT KITA PELAJARI DARI WANITA INI ?
1. Kasihnya yang murni dan tulus tanpa ikatan apapun terhadap sesamanya, dalam hal ini mertuanya. Terkadang kita bicara mengasihi Tuhan? Tetapi apakah kita mengasihi sesame kita? Bagaimanakah kasih kita terhadap sesame kita? Suami kita, sahabat kita, kawan-kawan dalam gereja kita? Apakah kasih kita ada tuntutan ini dan itu? Kasihnya dibuktikannya dalam pelayanannya dan kesetiaan serta ketaatannya kepada mertuanya. Kita harus akui ‘kasih’ kita banyak kali penuh dengan tuntutan dan mengharapkan ada timbale balik!
Illustrasi:
o Kesaksian waktu ingin berhenti kuliah di I-3
o Cerita tentang seorang wanita yang baru saja dioperasi untuk menghilangkan tumor di pipinya tidak ada jalan lain, dokter harus memotong satu syaraf kecil yang merupakan syaraf wajah. Opersi itu menyebabkan mulut wanita itu bengkok dan terlihat seperti badut. Satu malam dokter itu melihat: wanita itu sedang berduaan dengan suaminya. Sang dokter mendengar percakapan mereka: Apakah mulutku akan menjadi terus seperti ini? Ya, katan sang suami, tapi aku menyukainya dan ini membuatmu kelihatan lebih manis. Tanpa canggung sang suami membungkuk untuk mencium mulut isterinya yang mencong. Sangdokter melihat bagaimana sang suami berusahakeras untuk juga memencongkan mulut dan bibirnya sendiri untuk meyesuaikan dengan bibir isterinya agar mereka bias berciuman.
o Kisah Raja Edwards ketika mengunjungi panti untuk para tunarungu: Ada tulisan di dinding mereka: Kami tidak dapat berteriak, kami tidak dapat bernyanyi, namun kami dapat mengasihi Raja kami yang baik.
2. Imannya yang luar-biasa, walaupun hanya didasari oleh pengenalan dan pertobatan yang biasa dan sederhana. Rut mengenal Allah Israel hanya dari Naomi, mungkin juga sedikit ‘terpaksa’ karerna menikah dengan anak Naomi. Tapi, apakah yangdibuktikan oleh Rut dengan imannya, setelah dia mengenal siapakah Allah Israel? Rut membuktikan imannya dengan tetap setia tidak saja kepada mertuanya, tetapi tetap setia kepada Allah.
Illustrasi:
o Tradisi di I-3. Setiap mahasiswa baru / tkt 1 harus menyaksikan bagaimana kesaksian pertobatan dan panggilan mereka. Selalu hebat dan luar-biasa.
o Jajak pendapat dari George H. Fallup Jr. : Menemukan bukti bahwa iman itu baik untuk anda dan untuk orang lain yang berurusan dengan anda. Namun, kebaikkan-kebaikkan ini tampaknya kelihatan jelas hanya bila iman itu kuat. Organisasi George Gallup Jr, punya buktinya: Selama ½ abad mereka telah mencoba membuat grafik kadar kepercayaan dan praktik religious di Amerika serta menyelediki akibat-akibat serta pengaruhnya pada kehidupan seseorang. Hasil penemuan mereka dari dua studi terbaru khususnyatentang efek-efek doa dan tentang kuatnya kepercayaan, ditemukan bahwa, “Orang yang sungguh-sungguh taat adalah orang yang paling bahagia dan paling saling menolong.’ Tapi yang ironis adalah, ditemukan hanya 13% orang percaya / orang Kristen dalam kategori paling berkomitmen secara religious.
3. Pengaruhnya terhadap dunia ini dan Pekerjaan Allah dalam sejarah hidupnya. Pertanyaan untuk kita adalah ‘kebetulankah’ Rut menikah dengan anak Naomi walupun ditinggal mati? Kemudian meninggalkan Moab dan pergi ke Israel? Kemudian bertemu dengan seorang laki-laki (mungkin jauh lebih tua) yang bernama Boas? Siapakah yang berani membantah, jika semua yangterjadi dalam sejarah hidup Rut memperlihatkan pekerjaan Allah yang sempurna. Allah bekerja secara sempurna dalam sejarah hidupnya, Allah merajut begitu indah dalam mempersiapkan Rut menjadi penerus Juruselamat, Allah bekerja dalam mempertahankan hidup Rut melalui penebusan Boas terhadap keluarga mertuanya.
Illustrasi: Ada cerita menarik di malam Natal :
BADAI NATAL YANG MEMPERSATUKAN CINTA
Seorang pendeta muda baru saja dipanggil untuk menjadi pendeta di sebuah jemaat, yang pada awal abad XIX merupakan gereja paling bergengsi di daerah perumahan orang-orang kaya di kota New York. Ketika pendeta muda itu ditahbiskan, persisnya bulan Oktober 1948, daerah tersebut telah berubah menjadi daerah kumuh dengan bangunan tua yang telah diabaikan pemiliknya, karena mereka pindah ke daerah pemukiman baru di pinggir kota yang lingkungannya jauh lebih segar. Meski keadaannya demikian, pendeta dan istrinya tersebut sangat kagum terhadap gedung gereja yang masih mencerminkan kemegahannya di masa lampau itu. Mereka merasa yakin bahwa mereka akan dapat memugar gedung tersebut sehingga keindahan aslinya dapat dimunculkan kembali.
Beberapa saat setelah peneguhannya, dia dan istrinya langsung melakukan sendiri perbaikan dan pengecatan dengan tujuan untuk memulihkan kemegahan gedung tersebut. Mereka dengan sukarela melakukan hal tersebut karena memang anggaran jemaat tidak memungkinkan untuk menanggung biaya pemugaran secara profesional. Tujuan dari bapak pendeta dan istrinya ialah agar pada ibadah Natal tanggal 25 Desember, gedung tersebut sudah menampakkan kembali kemegahannya, setidak-tidaknya tampak lebih bersih.
Pada tanggal 23 Desember 1948, sebuah badai musim dingin melanda New York, mencurahkan hujan dan es yang cukup banyak. Atap gereja itu rusak cukup parah. Bocor di mana-mana. Yang paling besar di belakang altar. Plester tua di bagian itu terkupas dan runtuh, serta meninggalkan belang besar pada tembok di belakang mimbar. Dengan sangat kecewa, pak pendeta dan istrinya memandang tembok yang telah runtuh plesternya itu. Dan menyimpulkan bahwa mereka tidak akan dapat memperbaikinya sebelum Natal tiba. Kerja keras mereka selama hampir tiga bulan rasanya percuma saja. Namun pasangan muda itu bisa menerima keadaan tersebut. Mereka merasa mungkin ada maksud Tuhan yang belum jelas bagi mereka saat itu. Mereka lalu membersihkan puing-puing yang mengotori altar.
Dalam suasana hati yang dipenuhi kekecewaan, sore itu pendeta dan istrinya tersebut menghadiri sebuah pasar murah yang diselenggarakan oleh pemuda gereja. Salah satu yang dijual pada pasar murah itu adalah taplak meja tua berwarna gading dengan renda-renda berwarna emas. Taplak besar itu memiliki panjang lebih dari tiga meter. Agaknya, sang pemilik asli mempunyai meja makan yang sangat panjang. Sebuah meja makan keluarga besar. Saat itu, tiba-tiba benaknya dipenuhi oleh suatu gagasan yang muncul dalam pikirannya. Taplak meja tua itu lalu dibelinya dengan harga enam setengah dolar. Mereka ingin menggantungkan taplak meja itu di belakang mimbar untuk menutupi bagian tembok yang plesternya sudah runtuh.
Tanggal 24 Desember, salju turun disertai angin kencang. Suhu dingin yang ditimbulkan oleh angin kencang itu mendekati minus 20 derajat celcius. Ketika pak pendeta membuka pintu gereja yang menghadap ke jalan raya, dilihatnya seorang wanita berdiri menanti bus di tempat perhentian bus. Karena pak pendeta tahu persis bahwa bus baru akan lewat di situ setengah jam lagi, diundangnya wanita itu untuk masuk ke gereja supaya tidak kedinginan di luar. Wanita itu menjelaskan bahwa dia memang tidak berasal dari daerah tersebut, sehingga ia tidak tahu jadwal bus di situ. (Perlu diketahui bahwa bus kota di AS diatur dengan jadwal yang sangat tepat, sehingga orang tahu pasti jam berapa bus tersebut melewati terminal tertentu.)
Wanita itu menjelaskan bahwa dia datang ke kota untuk mencari pekerjaan sebagai "governess" (pengasuh anak keluarga kaya) di daerah tersebut. Karena dirinya adalah seorang pengungsi perang dari salah satu negara Eropa yang tidak berbahasa Inggris, maka bahasa Inggrisnya dianggap kurang lancar. Oleh karena itu, setelah wawancara, lamarannya ditolak.
Sambil menunggu bus, dia memanfaatkan waktunya untuk berdoa. Dia tidak memperhatikan pak pendeta yang sedang memasang taplak meja yang baru dibeli di pasar murah untuk menutup dinding yang telah kehilangan plesternya itu. Setelah selesai berdoa dan memandang ke depan, dilihatnya taplak meja makan itu dan didekatinya.
"Ini taplak meja saya!" katanya menjelaskan. "Ini adalah taplak meja untuk acara-acara keluarga besar!" Dengan penuh semangat diceritakannya sejarahnya kepada pak pendeta yang masih terheran-heran. Ia menunjukkan namanya sendiri yang dibordir pada salah satu sudut taplak besar tersebut.
Bersama suaminya, dia dulu tinggal di Wina, Austria. Mereka melarikan diri dari Nazi Jerman hanya beberapa saat sebelum Perang Dunia II. Mereka memutuskan untuk mengungsi ke Swiss. Mereka sepakat untuk berangkat secara terpisah. Dia berangkat lebih dulu dan suaminya menyusul. Di kemudian hari, ia mendengar suaminya telah meninggal di camp konsentrasi Nazi.
Karena tersentuh oleh kisah tersebut, pak pendeta bermaksud memberikan taplak itu kepada pemiliknya yang asli. Ibu itu berpikir sejenak. Kemudian ia menolak tawaran itu dengan alasan karena dia tidak membutuhkannya lagi. Apalagi taplak itu kelihatan bagus tergantung di mimbar. Lalu dia berpamitan dan meninggalkan gereja tersebut.
Dalam "Candlelight Service" (kebaktian malam Natal dengan penerangan lilin), taplak meja itu kelihatan makin indah. Warna-warna emasnya makin menonjol dan berkilat-kilat diterpa sinar dari berpuluh lilin. Setelah kebaktian berakhir, dan para warga gereja meninggalkan tempat ibadah itu, mereka memuji penyelenggaraan ibadah malam itu dan mengomentari dekorasi di belakang mimbar.
Seorang lelaki tua menyatakan kekagumannya terhadap taplak meja yang digantung di dinding tersebut dan berkata kepada pak pendeta, "Aneh sekali! Beberapa tahun yang lalu, almarhum istri saya dan saya memiliki taplak meja yang mirip sekali dengan yang tergantung di tembok itu. Saya hanya mempergunakannya untuk acara-acara khusus.
Namun, waktu itu kami masih tinggal di Wina." Memang udara malam itu luar biasa dinginnya, tetapi bulu kuduk pak pendeta justru berdiri mendengar keterangan pak tua itu. Dengan cara setenang mungkin, pak pendeta menceritakan kepada pak tua itu tentang seorang wanita yang dijumpainya sore tadi.
"Mungkinkah itu?" kata pak tua itu sambil mengusap air matanya. "Mungkinkan dia masih hidup? Bagaimana caranya saya dapat menjumpai wanita itu?" Pak pendeta ingat nama keluarga yang telah mewawancarai seorang wanita yang dijumpainya sore tadi. Dengan didampingi pak tua yang gemetaran karena tidak dapat menahan perasaannya, pak pendeta menelpon keluarga tersebut dan mencatat nama serta alamat wanita tersebut.
Dengan mobil, diantarnya pak tua itu ke sisi lain kota New York. Lalu mereka bersama-sama mengetuk pintu apartemen wanita tersebut. Ketika pintu terbuka, pak pendeta menyaksikan sebuah pertemuan yang penuh air mata sukacita yang menandai reuni sepasang suami-istri yang telah dipisahkan karena niat bersama untuk menyelamatkan diri dari kekejaman Nazi. Mereka dipisahkan lebih dari sepuluh tahun dan percaya bahwa pasangannya telah meninggal dunia. Sekarang mereka dipersatukan kembali.
Beberapa orang mengatakan bahwa peristiwa tersebut adalah sebuah kebetulan yang luar biasa: tembok yang runtuh plesternya, taplak meja tua, kecerdikan pak pendeta untuk memecahkan masalah. Namun, kombinasi peristiwa ini sungguh terlalu kompleks untuk menyebutnya sebagai sebuah kebetulan. Jika saja satu mata rantai yang rapuh dari rangkaiah peristiwa tersebut rusak, suami-istri tersebut mungkin tidak dapat dipersatukan kembali pada hari Natal tersebut.
Seandainya hujan deras tidak turun, seandainya atap gereja tidak bocor. Seandainya pak pendeta tidak pergi ke pasar murah, seandainya wanita itu tidak pergi mencari pekerjaan. Seandainya wanita itu tidak berdiri menunggu bus tepat pada saat pak pendeta membuka pintu gereja. Seandainya.... Sebuah daftar panjang pengandaian yang dapat dibuat di sekitar kisah nyata itu. Persatuan itu agaknya memang sudah menjadi kehendak Tuhan. Seperti yang sering dikatakan orang, Tuhan bekerja dengan cara yang misterius. Damai di bumi, damailah di hati kita!
KESIMPULAN :
Rut menggambarkan seorang wanita biasa dan sederhana tetapi memiliki iman yang luar-biasa. Bertobat secara sederhana, hanya karena melihat iman dan kepercayaan mertuanya, bukan karena melihat hal spektakuler.
Rut menggambarkan seorang wanita dengan hati yang mulia yang mempengaruhi dunia, karena mewariskan kekayaan-kekayaan rohani bagi suami dan anak-anaknya. Tidak salah jika Dr. John McArthur dalam sebuah bukunya mensejajarkan Rut dengan Wanita Dalam Amsal 31. Berasal dari negeri penyembah berhala, bertobat karena melihat iman mertua, dating ke Israel sebagai wanita miskin yang hanya hidup karena memungut jelai sisa orang Israel, tapi akhirnya menjadi nenek moyang Juruselamat.
Rut menggambarkan seorang wanita Agung tapi berhati seorang hamba yang membuktikan imannya dalam pelayanannya terhadap sesama, suami, anak-anak dan Allahnya. Ia setia kepada Tuhan, Tuhan memberkati hidup Rut secara luar-biasa, mulai dari topangan hidup, suami dan keturunan yang rohani.
Kisah tentang Catherine Booth, isteri dari pendiri Bala Keselamatan. Putranya pernah menulis tentang dirinya: “Ibu saya memulai pelayanannya kepada umum ketika saya, anak sulungnya berumur 5 tahun. Namun, keluarganya sendiri tidak pernah ditelantarkan untuk apa yang oleh beberapa orang disebut – saya ragu apakah dia juga akan menggambarkannya demikian – kegiatan atau pelayanan yanglebih penting. Kedua-duanya sama-sama dibuka baginya oleh Tuhannya. Ibu melihat tujuan-tujuan Illahi dalam keduanya. Dalam tugas-tugas kecil di dapur, kedua tangannya selalu sibuk dengan makanan, atau di kamar anak ketika anak-anak akan tidur atau di sisi tempat tidur anaknya yang sakit, Ibu bekerja bagi kemuliaan Tuhan.
Amin!